Browsed by
Author: Supriadi Rustad

Robohnya Universitas Kami (2): Doktor Tiga Rasa ?>

Robohnya Universitas Kami (2): Doktor Tiga Rasa

Sewaktu muda saya pernah “kesetrum”. Sengatan listrik semacam itu telah menghasilkan efek kejut yang menggetarkan, tidak saja pada tubuh secara fisik tetapi juga otak  pengendali pikiran. Secara cepat mulailah otak ini belajar tentang segala hal yang berkaitan dengan sengatan itu.  Sejumlah ilmu baru pun mengalir cepat masuk ke kepala. Di ujung tahun lalu saya tersengat “listrik akademik”. Sebuah universitas besar tiba-tiba dan seperti membabi buta menerbitkan pedoman akademik yang membolehkan kemiripan karya ilmiah mahasiswa hingga 50 %. Kebijakan itu tertuang…

Read More Read More

Robohnya Universitas Kami (1): Bila Universitas Jadi Suaka plagiasi ?>

Robohnya Universitas Kami (1): Bila Universitas Jadi Suaka plagiasi

Dunia ini memang sudah terluka dan terbuka. Rekomendasi Tim Evaluasi Kinerja Akademik (EKA) yang secara khusus ditujukan kepada Menteri terkait usulan sanksi kepada pelaku tindak plagiat telah bocor merembes mengalir ke mana-mana terutama grup-grup media sosial komunitas pendidikan tinggi. Saya menyadari kebocoran itu setelah ditunjukkan melalui wa oleh seorang teman (rektor) yang dulu sering sama-sama cari rendeng (batang tubuh dan daun kacang tanah sisa panen sebagai pakan ternak) di kampung. Kami bertemu pada upacara 1 Juni yang lalu di Kemdagri….

Read More Read More

Waralaba Pendidikan Doktor ?>

Waralaba Pendidikan Doktor

Syahdan di sebuah negeri Atas Angin, seorang pejabat kerajaan melaporkan kepada Mahapatih Karna Yaksa Mahendra bahwa telah terjadi jual beli kekancingan (Ijazah/SK)  di antara punggawa keraton. Akibat dari praktek itu rakyat menjadi malas, tidak mau menuntut ilmu dan berlatih keras di perguruan  karena kekancingan sebagai syarat pekerjaan dan jabatan dapat diperoleh dengan cara menyogok dan menyuap. Sang Mahapatih tak segera menanggapi. Suasana perguruan dan pendadaran pun menjadi “sepi” karena nyaris tidak ada orang yang mau bersusah payah belajar kepada para…

Read More Read More

Pemimpin Perguruan Tinggi Minus Roh Pendidik ?>

Pemimpin Perguruan Tinggi Minus Roh Pendidik

Awal mei lalu saya “ditegur” oleh pak dhe yanto (Prof. Suyanto, Ph.D, UNY) karena lebih dari sebulan saya seperti berhenti menulis memutakhirkan blog. Rupanya beliau mengkhawatirkan kesehatan saya sehingga mengirimi resep awet sehat, hehehe…. Sejumlah kolega dan pengunjung ternyata juga menyampaikan pesan yang sama. Ketika di Bekasi kemarin ketemu mas Nanang (Prof. Nanang T Puspito, ITB) yang sedang bertugas pada acara pendidikan anti korupsi, beliau juga menyentil soal blog itu.  Saya menjadi merasa bersalah karena telah menelantarkan blog yang rupanya…

Read More Read More

Pendidikan Doktor Beneran: cerita lahirnya PMDSU ?>

Pendidikan Doktor Beneran: cerita lahirnya PMDSU

Secara umum pendidikan doktor di Indonesia semakin formal dan tidak jelas arahnya. Indikasi utamanya, jumlah karya ilmiah doktor tidak sebanyak jumlah lulusannya. Sejumlah doktor, kalaupun mereka memiliki, karya ilmiahnya tidak terdeteksi di berbagai sumber terbuka mana pun, termasuk di repositori dan perpustakaan perguruan tinggi tempat mereka menempuh studi. Sejumlah doktor macam ini terendus oleh Tim Eka melakukan jual-beli ijazah dan menyelenggarakan wisuda ilegal. Karya ilmiah doktor harus menjadi pusat perhatian penjaminan mutu baik internal (SPMI , Ditjen Belmawa) maupun eksternal…

Read More Read More

Membasuh Muka Pilrek dari Wajah Pilkada: Sebuah Pelajaran dari UHO ?>

Membasuh Muka Pilrek dari Wajah Pilkada: Sebuah Pelajaran dari UHO

Kegaduhan pada pemilihan rektor (pilrek) sejumlah perguruan tinggi semakin menggejala seiring dengan keterbukaan informasi dan kian riuhnya pesta demokrasi pemilihan kepala daerah (pilkada). Ada kecenderungan pilrek meniru pola dan gaya pilkada dengan segenap pernak-perniknya, termasuk dengan kehadiran tim sukses dan pemanfaatan jasa pengerah massa menjelang hari H. Pemilihan bahkan sudah mulai melibatkan investor “asing”. Alih-alih menjadi pelopor pembangunan demokrasi, sejumlah perguruan tinggi bahkan telah gagal karena cenderung menjadi pengekor praktik demokrasi yang kurang baik. Mudah ditebak, ujung dari segala keterlibatan…

Read More Read More

Pendidikan Doktor “Basa-basi” ?>

Pendidikan Doktor “Basa-basi”

Mulai dari tulisan ini saya memutuskan untuk menggunakan istilah “basa-basi” guna memperhalus ungkapan yang sebelumnya saya gunakan untuk menyebut mutu rendah. Saya belajar, dan akhirnya menyadari bahwa masyarakat Indonesia ternyata lebih menyukai penghalusan bahasa yang tetap memuat selera humor (joke) daripada yang lugas meski maknanya sama. Melalui tulisan ini pula saya meralat ungkapan abal-abal yang sebelumnya sempat saya gunakan dan menggantinya dengan “basa-basi”. Mencermati rangking Webometrics perguruan tinggi di Indonesia edisi Januari 2017 dan sebelumnya, ada data menarik. Secara umum…

Read More Read More

“Udang Besar” di Balik Ijazah Abal-abal ?>

“Udang Besar” di Balik Ijazah Abal-abal

Hipotesis saya tentang motif utama penerbitan ijazah abal-abal selalu terbukti dan belum pernah meleset. Berjalan menyusuri lorong gelap perguruan tinggi di Tanah Air, besar-kecil, negeri-swasta, Jawa-luar Jawa, saya selalu menemukan simpulan sama: setiap kejahatan akademik jenis ini selalu berkorelasi dengan motif untuk mencari keuntungan finansial, baik secara pribadi maupun kelompok. Barangkali simpulan sementara ini bisa dikatagorikan sebagai tacit knowledge, karena merupakan “ilmu lapangan” yang  saya peroleh di luar perkuliahan. Penerbitan ijazah abal-abal merupakan titik temu dua pihak berkepentingan yang saling…

Read More Read More

Perguruan Tinggi Besar, Siapakah? ?>

Perguruan Tinggi Besar, Siapakah?

Mungkin banyak yang bertanya-tanya, siapa sesungguhnya perguruan tinggi besar? Apa kriteria yang digunakan untuk menentukan sebuah perguruan tinggi itu perguruan tinggi besar? Secara kuantitatif, perguruan tinggi besar dapat didefinisikan melalui besaran akses pendidikan yang disediakannya. Penggolongan dapat dilakukan melalui jumlah mahasiswa (student body), misalnya perguruan tinggi besar adalah perguruan tinggi dengan total mahasiswa lebih dari 20.000 orang, atau lebih dari 10.000 orang dan seterusnya, atau melalui jumlah lulusannya (produktivitas). Di Jawa Timur ada perguruan tinggi pada program studi S2 tiap…

Read More Read More

Pendidikan Tinggi Sudah Berubah, Bung! ?>

Pendidikan Tinggi Sudah Berubah, Bung!

Banyak yang belum menyadari bahwa Pendidikan tinggi (dikti) di Indonesia sudah berubah.  Masyarakat Dikti sendiri tampaknya juga belum sepenuhnya memahami perubahan itu. Tulisan ini tak lebih berisi catatan ringkas seorang yang pernah berkeliling ke sejumlah perguruan tinggi untuk melakukan sosialisasi tentang perubahan itu dan berkesempatan sekira tiga tahun untuk ikut mengimplementasikannya. Tonggak penting perubahan kebijakan Dikti terjadi pada 4-5 tahun silam, yaitu ketika Pemerintah dan DPR menyetujui  pengesahan Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2012 tentang Pendidikan Tinggi. Judul yang selalu digunakan…

Read More Read More