Plagiat di Balik Asmara (2): Tim EKA Bekerja Dengan Jiwa ?>

Plagiat di Balik Asmara (2): Tim EKA Bekerja Dengan Jiwa

Sudah sangat tepat kebijakan Menteri untuk tidak menerjunkan Tim Evaluasi Kinerja Akademik (EKA) secara resmi untuk mengusut kasus plagiat seorang pimpinan perguruan tinggi negeri di sebuah kota. Kebijakan itu seperti mengabulkan doa saya selama membayangkan betapa repotnya mengelola perasaan anggota tim yang dulunya pernah menjadi bagian penting sejarah perguruan tinggi yang akan diperiksa. Lega rasanya bisa keluar dari perang batin ini, meski di luar sana masyarakat sibuk bertanya-tanya tentang reputasi Tim EKA yang dulu terbukti pernah bisa bekerja.

Kepada para pembaca setia, saya ingin menyampaikan bahwa Tim Eka itu bukan himpunan orang, pakar atau personalia tetapi himpunan jiwa dari mereka yang berpikiran merdeka. Tim ini gigih bekerja tidak mengandalkan surat tugas atau eska semata, tetapi mengutamakan gairah jiwa mulia. Alhamdulillah, sebagian besar waktu kerja tim bersifat luring (offline) dari anggaran pendapatan dan belanja negara.

Tim bisa bekerja apa adanya tanpa harus terbelit oleh urusan sederhana. Alhamdulillah, seluruh perguruan tinggi yang kami kunjungi tidak ada yang pernah sekalipun mempertanyakan kami berasal dari mana. Integritas dan ketulusan ternyata telah membangun rasa saling percaya.

Seorang pengendara dianjurkan sekali-kali menengok kaca untuk merekonstruksi sebuah kejadian di dalam lintasan peristiwa. Tahun lalu hasil kerja Tim Eka di Universitas Negeri Jakarta (UNJ) belum dipandang segenap mata sehingga Menteri perlu membentuk Tim Independen sebagai pelengkap mata seolah Tim Eka kurang merdeka dan berdaya. Lantunan “Jangan menyerah” d’masiv membakar jiwa-jiwa mulia Tim EKA yang semakin menggeliat dan menggelora, dan Tuhan akhirnya benar-benar menunjukkan kebesaran dan kuasa Nya.

Allah sungguh menyayangi umatnya yang gigih menyuarakan kebenaran dan telah mengirim malaikat untuk membawa kasus plagiat UNJ memasuki wilayah sengketa. Seperti gerakan refleks penyelamatan diri, tiba-tiba hasil kerja Tim Independen secara mendadak tiarap rata dengan tanah dan tak seorangpun di planet ini pernah bisa membaca atau mengetahui hasilnya. Alhamdulilah, hampir semua berita di sejumlah media ketika itu menyebutnya : sebuah pemecatan rektor yang selalu dikaitkan dengan temuan Tim EKA. Rupanya nabi Kidir sedang iseng dan bercanda, menyorongkan hasil kerja Tim EKA ke media, mungkin maksudnya sekedar menguji ketabahan dan kekuatan tim menghadapi sejumlah pemeriksa.

Tim EKA tidak akan mati diterabas dengan pedang atau dihantam oleh palu godam karena ia telah terlanjur melebur menjadi jiwa-jiwa mulia. Ia bersemayam di setiap dada orang merdeka, tak peduli mereka pejabat kementerian, komunitas pendidikan tinggi, anggota tim independen atau tim apapun atau masyarakat biasa. Surat tugas dan eska itu hanya perangkat yang hanya bisa membatasi administrasi tetapi tidak akan bisa menahan gerakan jiwa merdeka dan mampu mengubur setiap jiwa ksatria.

Jangan pernah menerka bahwa sebuah Tim EKA harus sibuk kemana-mana untuk memburu data atau mangsa. Tugas mondar-mandir itu telah diperankan dengan baik oleh kang Kidir yang sering mampir menyindir, meniupkan data-data penting datang silih berganti hingga tertata tersaji rapi di atas meja. Seringkali data itu datang dengan disertai analisi canggih nan matang yang bisa memaksa saya menggeleng-gelengkan kan kepala.

Baru saja kita semua menyaksikan pertempuran hebat antara dua kutub superpower di Jakarta tahun lalu, yaitu antara kekuatan politik dan akademik. Kekuatan politik selalu mengandalkan lobi-lobi melalui instrumen kekuasaan dan hukum, sedang insan akademik bisanya hanya menulis karya sastra yang dimaksudkan untuk mencerahkan publik. Ini semacam pertarungan antara hard vs soft power yang sangat unik. Saya berbahagia karena setidaknya bisa turut menyumbang hasil akhir bahwa kekuatan akademik tidak bisa dikalahkan oleh kekuatan politik. Ini termasuk fenomena baru dan bisa menjadi salah satu bukti yang menyangkal tulisan seorang pakar Australia tentang pendidikan tinggi di Indonesia sulit maju akibat terkooptasi oleh kekuatan politik.

Berikut ini saya tuturkan dongeng fisika, yaitu sebuah dongeng yang berdiri persis di balik dinding alam nyata. Pada pertengahan tahun, seluruh penduduk negeri sedang menyaksikan pertarungan antara kekuatan politik dan akademik di suatu wilayah di pusat Pulau Jawa. Sebagaimana diberitakan di sejumlah media, kasusnya melibatkan pimpinan perguruan tinggi negeri di suatu kota dan pimpinan redaksi sebuah jurnal ilmiah milik salah satu perguruan tinggi di lain kota. Sebagaimana lagu lama sebelumnya, pencemaran nama baik telah menjadi biang sengketa.

Perang urat syaraf antara kedua belah pihak sudah mulai digelindingkan. Somasi dari penggugat sudah dilayangkan dan jawaban dari tergugat juga sudah mengumandang. Naga-naga nya sang pimpinan perguruan tinggi mulai mengerut nyalinya dan saya memprediksi ia tidak akan berani lagi melakukan gugatan hukum dengan sejumlah alasan.

Pertama, redaksi jurnal menyatakan dengan tegas bahwa keputusan penting tentang status artikel mengacu kepada kode etik yang tercantum pada sampul jurnal di setiap edisi. Setiap penulis yang hendak mensubmit artikel diasumsikan telah mengetahui dengan baik tentang kode etik ini. Redaksi jurnal bersikukuh bahwa keputusan terkait artikel itu adalah dalam rangka menanggapi keluhan dari seorang pembaca yang mengadukan adanya kemiripan antara dua artikel yang diserahkan kepada redaksi. Di dalam konteks ini, untuk menyusun jawaban kepada pengadu, redaksi merasa tidak perlu menghadirkan artikel yang lain lagi.

Kedua, begitu artikel diserahkan dan kemudian diterbitkan oleh sebuah media, maka sejatinya artikel itu telah menjadi kekayaan intelektual milik media atau penerbit. Penulis sudah tidak memiliki hak lagi atas artikel itu karena ia telah menerima imbalan angka kredit. Hak gugat penulis betul-betul habis terjepit apalagi ketika angka kredit itu telah menjelma menjadi tunjangan dan jabatan yang banyak menghasilkan duit.

Seorang petani telah menjual sapi kepada pedagang di pasar dengan imbalan sejumlah uang, maka sapi-sapi itu telah berpindah menjadi milik sang pedagang sesuai hukum adat. Ketika sang pedagang mengumumkan status kesehatan sapi-sapi itu kepada masyarakat, maka tak seorangpun petani berhak menggugat. Misalnya, pedagang mengumumkan bahwa ia memiliki 10 sapi, yang 9 ekor kondisinya sehat, sedang yang 1 cacat mata tidak bisa melihat, maka jelas petani yang telah menjual sapi dengan mata cacat itu tidak lagi bisa berbuat.

Cerita tentang sapi-sapi itu hanya sekedar mengingatkan bahwa redaksi jurnal itu sesungguhnya pihak yang menjadi korban. Mestinya ia yang menggugat petani karena telah memberinya sapi cacat bawaan. Masak iya, para ilmuwan harus belajar kepada adat perdagangan hewan.

Ketiga, institusi penerbitan jurnal hakekatnya adalah langit akademik yang tidak bisa dijamah oleh segala macam tingkatan kekuasaan. Jangankan rektor, menteri bahkan hingga presidenpun harus merasa malu berurusan dengan pimpinan redaksi jurnal ilmiah sepanjang itu terkait dengan artikel-artikel yang telah mereka terbitkan. Di dunia pewayangan banyak dikisahkan seorang raja (pimpinan perguruan tinggi) sangat menghormati kearifan seorang begawan atau panembahan.

Dongeng yang menyeruak ke ruang publik dalam beberapa bulan terakhir ini merupakan awalan dari kisah sesungguhnya tentang sebuah tindak plagiat. Ia seperti pemanasan kecil dan kembang-kembangan sebelum pertunjukan pencak silat. Saya sangat meyakini tidak akan pernah ada obat untuk perbuatan curang yang demikian hebat.

Dongeng sebelumnya telah menyampaikan kesimpulan amat mendalam bahwa plagiat itu bukan sebuah kebetulan atau kecelakaan tetapi sebuah kebiasaan. Ia merupakan internalisasi dan kristalisasi dari tindakan curang yang dilakukan oleh yang bersangkutan secara berulang-ulang. Ia bisa berawal dari perilaku menyontek pekerjaan teman, menulis secara sembarangan di koran, dan menulis buku dengan meminjam pikiran mahasiswa bimbingan.

Tanda-tanda sebuah kebiasaan curang bisa diamati ketika pelakunya mulai doyan melakukan copy-paste dan replace (all) secara sembarangan untuk hampir semua pekerjaan. Perilaku itu seperti sedang disuburkan ketika ia mulai beralih profesi menjadi pemborong beraneka macam penelitian. Suatu ketika Allah mengutus Nabi Kidir untuk menyampaikan guyonan kepada yang sedang keenakan, dan pada proses replace itu ternyata ada yang terlewatkan ketika porsinya sudah amat kebanyakan.

Tim EKA memiliki pandangan bahwa tindak plagiat itu bukan wilayah perdebatan tetapi wilayah kepastian. Kejujuran seseorang dapat diukur dari penilaiannya terhadap kepastian. Siapapun yang cenderung membawa kepastian ke ranah perdebatan, tidak cocok menjadi ilmuwan.

Sekiranya ada Tim yang ditugasi, saya berpesan kepada seluruh anggota untuk bekerja keras menghasilkan rekomendasi kepada Menteri berdasarkan bukti, dan tidak sekali-kali bermain-main di wilayah indikasi. Rakyat menunggu kalian mendarmakan bakti kepada ibu pertiwi dan jangan sekali-kali justru malah memproduksi misteri dan teka-teki. Inshaallah, kerutan kening dan integritas akademikmu kelak akan tertoreh abadi menjadi penghias pelangi langit pendidikan tinggi.

Supriadi Rustad, Tim Evaluasi Kinerja Akademik (EKA) Perguruan Tinggi, Kemenristekdikti, dan Guru Besar Universitas Dian Nuswantoro, Semarang.

Share0
Share0
http://supriadirustad.blog.dinus.ac.id/2018/08/06/plagiat-di-balik-asmara-2-tim-eka-bekerja-dengan-jiwa/
Share

5 thoughts on “Plagiat di Balik Asmara (2): Tim EKA Bekerja Dengan Jiwa

  1. Saya sangat setuju Plagiat adalah sebuah moral dan perilaku yang kurang baik. Dalam menulis juga selayaknya mencari peluang “Gap” kajian yang berbeda dengan lainnya. Mungkin bagi beberapa boleh ‘replikasi’ beberapa teori, tetapi pada intinya jelas berbeda kultur dan data sajian.

    Prof. Dr. Supriadi Rustad lahir ditengah banyaknya ‘perlunya perbaikan’ dalam pembelajaran dan akademik.

    Kami terus mendukung perjuangan Prof. yang telah mewakafkan diri untuk menjaga NKRI dari sisi akademik.

    Taat Azas, Gusti Allah mboten Sare.

  2. Saat menulis tidak dilakukan sepenuh hati dan tidak diniatkan untuk kebaikan umat maka hasilnya pun akan berbeda, Prof. Semoga insan akademik di Indonesia semakin baik niat nya.

  3. Menulis sejatinya adalah ungkapan kata hati yang dituangkan pada cerarik kertas dari hasil perkawinan sebuah pemikiran yang bersih. Semoga insan akademik di Indonesia semakin baik niat nya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *