Robohnya Universitas Kami (12): Dikti 4.0 Dengan Doktor -5.0 ?>

Robohnya Universitas Kami (12): Dikti 4.0 Dengan Doktor -5.0

Tujuan hidup aman damai dan sejahtera mustahil dapat diwujudkan tanpa adanya keadilan. Salah satu cara ampuh untuk menegakkan keadilan adalah dengan menghormati kebenaran. Inilah filosofi dasar pentingnya pendidikan untuk membangun peradaban karena suara pendidikan itu sejatinya adalah suara kebenaran, bukan suara kekuasaan.

Kebenaran ditiupkan dari langit menuju bumi tanpa resistensi, namun manusia telah lama terlahir memiliki jiwanya sendiri. Agar dapat memasuki jiwa-jiwa itu, kebenaran memerlukan orang-orang yang peduli mengabarkan dan memwasiatkan kebenaran tersebut secara sabar sebagaimana ajaran kitab suci. Di samping pintar, orang pendidikan harus memiliki sikap berani menyampaikan kebenaran sejati, kecuali mereka rela didaftarkan ke dalam golongan orang-orang yang merugi.

Terhadap kasus tindak plagiat pendapat saya sudah bulat, sekali plagiat tetap plagiat. Meski bukan pejabat, saya siap bertanggungjawab bahkan hingga nanti di akhirat ketika ditanyai oleh para malaikat. Saya melihat banyak pejabat yang sangat sensitif menyebut plagiat karena khawatir ucapannya akan digoreng dan digugat. Kekhawatirannya kadang keliwat-liwat padahal sesungguhnya aparat tidak akan menghukum orang yang tidak berbuat jahat.

Sebagai benteng tarakhir peradaban, pendidikan harus kokoh dalam pengertian tidak boleh roboh. Meski pahit nan getir watak kokoh itu harus diteladankan oleh para pelaku pendidikan kepada masyarakat karena ia berfungsi sebagai contoh. Sementara ini masyarakat umumnya kurang suka membaca dan mendengar, tetapi lebih suka dan cepat meniru perilaku para tokoh.

Seringkali persepsi terhadap contoh melebihi fenomena yang pernah terjadi dan cepat meluas melalui metode analogi. Ketika karya plagiat tidak dihukum dan boleh direvisi, maka nanti masyarakat akan berfikir bahwa Kementerian Pendidikan membolehkan plagiasi, baru kalau praktik itu kemudian ada yang mengetahui maka karya tersebut wajib diperbaiki. Perluasannya, orang boleh mencuri dan korupsi tetapi nanti ketika ketahuan polisi, hasil korupsi itu wajib kembali.

Ketidaktegasan para pelaku untuk menegakkan nilai-nilai pendidikan akan membawa sebuah peradaban bangsa masuk ke dalam jurang. Saya tidak akan pernah bosan menyebarkan cuilan tulisan karena menginginkan peradaban bangsa ini tidak sampai tenggelam. Saya wakafkan waktu dan niatkan untuk tidak wegah dan bosan melayani secara santun setiap gugatan dan pemeriksaan.

Berdasarkan kejelian pengamatan, ternyata aparat yang sedang bertugas itu sangat paham tentang orang baik dan kebenaran. Saya malah semakin merasa nyaman ada bersama mereka karena pemeriksaan-pemeriksaan itu ternyata mendatangkan hikmah begitu banyak pengetahuan. Berdasarkan pengalaman, saya belum pernah menyaksikan baik tertulis maupun lisan seorang plagiator memenangkan gugatan di pengadilan. Fakta di Negeri di Atas Awan, ancaman gugatan dari plagiator sampai titik darah penghabisan ternyata mampu menggetarkan nyali seorang pimpinan.

Rasa takut itu terbangun dari jiwa sendiri, sebagian besar disebabkan oleh kurangnya pengetahuan dan pengalaman tentang medan area di seputar hal yang sedang ditakuti. Rasa takut inilah yang dulu juga pernah menghinggapi Julius Caesar (47 BC) sebelum kemudian ia menemukan dan mengeluarkan jurus ampuh, veni, vidi, vici. Tentang suatu persoalan yang sedang engkau hadapi dan takuti, jangan sekalipun engkau hindari atau sembunyi, tetapi bismillah datangi, amati dan menangi. Inshaallah Tuhan melindungi.

Di dunia tinju atau badminton, sumber utama kemenangan adalah kecepatan. Faktor inilah yang dimiliki oleh The Pacman Manny Paquiao dan Kevin-Gideon di dalam memenangi sejumlah kejuaraan. Meski posturnya jelas tergolong kecil dan minion, namun penetrasinya sangat cepat dan tajam sehingga tidak bisa diantisipasi oleh lawan.

Zaman now adalah zaman sekarang yang sudah bukan saatnya berlama-lama menimang keputusan. Konon di dunia bisnis, bangsa Jepang dinilai ketinggalan oleh mantan jajahannya Korea Selatan karena terlalu banyak membelanjakan waktu hanya sekedar untuk mendiskusikan sebuah pertimbangan. Ketika si Jepang sedang sibuk mematangkan sebuah usulan perbaikan, si Korea malah sudah mengeluarkan varian produk baru yang lebih cemerlang.

Pimpinan perguruan tinggi di Atas Awan belum ada tanda-tanda akan mengeluarkan keputusan meski tugasnya telah menginjak bulan keenam. Tampaknya kosa kata minggu ini atau minggu sekarang sudah hilang dari peredaran, yang tersisa adalah minggu depan. Semakin lama ia menggantung keputusan, semakin sering dan banyak saya menerima panggilan pemeriksaan. Alhamdulillah, saya menganggapnya sebagai sebuah kenikmatan bisa tetap sehat dan merasa nyaman terutama ketika kepala ini terus berkelindan dan kemudian menggerakkan tangan dan fikiran untuk melahirkan sejumlah tulisan.

Secara alamiah yang bisa menghentikan tulisan ini hanya sebuah keputusan, bukan wadulan paguyuban pimpinan. Tak bosan-bosan saya menyampaikan bahwa tulisan-tulisan itu adalah bentuk dari sebuah pertahanan, bukan serangan. Panggilan-panggilan itulah yang menyalakan semangat fikiran untuk terus melawan. Saya sangat meyakini panggilan-panggilan itu akan segera berhenti ketika perguruan tinggi menjatuhkan keputusan sebagaimana telah dicontohkan oleh Kementerian.

Lebih dari tiga kali saya mendengarkan arahan Menteri yang sudah sangat pasti sesuai dengan amanah konstitusi. Plagiasi merupakan perbuatan yang tidak boleh ditoleransi dan harus ditenggelamkan sebagaimana penenggelaman kapal ilegal oleh Menteri Susi. Ia telah diatur di dalam peraturan menteri sebelumnya dan juga dicantolkan di dalam peraturan yang lebih baru tentang larangan plagiasi bagi calon pemimpin perguruan tinggi.

Perguruan tinggi si penyuara kebenaran sekarang sedang galau dan gamang, mungkin takut atau risih dengan berbagai ancaman gugatan. Ancaman itu datang dari para lulusan yang disertasinya terbukti hasil jiplakan. Padahal sang lulusan itu sudah memasang janji di lembar pernyataan bahwa jika karya disertasinya terbukti jiplakan, ia pun telah membubuhkan tanda tangan dan menyatakan siap ijazahnya dibatalkan. Lantas, apalagi yang sedang dan terus dipersiapkan setelah membelanjakan waktu berbulan-bulan? Apakah harus menunggu nanti setelah salam-salaman di hari lebaran?

Tradisi leluhur mengukur kapasitas seseorang dengan istilah daringan, suatu perkakas di zaman dulu sebagai wadah penyimpan beras dengan beragam ukuran. Ketika seseorang dibilang memiliki daringan kecil (tidak memiliki daringan), itu artinya kelak ia akan menjadi pelayan. Sebaliknya ketika seseorang dibilang memiliki daringan besar (memiliki daringan), maka ia sedang dikudang akan menjadi seorang pimpinan di masa depan. Di masa sekarang, besar dan kecil itu ternyata adalah sesuatu yang berkelindan di alam fikiran.

Siapapun tentu berpendapat sama bahwa menyelamatkan peradaban bangsa jauh lebih utama (besar) dari pada sibuk menemukan cara menghindari gugatan para durjana dan narapidana. Seorang petani tidak takut keringat mengalir karena ia sedang berfikir untuk turut membasahi kesejahteraan bersama . Seorang polisi tidak takut darah menetes karena ia berfikir tentang keamanan dan kedamaian negara. Seorang tentara tidak takut kehilangan nyawa karena ia berfikir rakyat harus merdeka. Seorang mahasiswa tidak takut membuka mata karena ia befikir tentang masa depan mulia.

Rumus kehidupan selalu ada di dalam fikiran orang-orang besar yang “memiliki” daringan. Ia seperti rumus mata pelajaran bagi mahasiswa saat sedang mengerjakan ujian. Sudah barang tentu sebuah ujian memiliki batasan, namun jelas batasan waktu itu tidak sampai ke angka 6 bahkan 18 bulan. Ketika seorang mahasiswa mengerjakan ujian dan terus berputar-putar selama berbulan-bulan, seseorang wajib menyapa dan mengingatkan tentang bunyi rumus kehidupan.

Meski tampil dalam format sederhana, rumus kehidupan melingkupi dan merangkumi berbagai rumus ilmuwan. Ia adalah seperangkat kearifan yang berasal dari fikiran dan kemudian menggerakkan kaki dan tangan. Bagi kita yang beriman, buah fikiran itu cerminan akal budi seseorang yang gigih mengimplementasikan firman Tuhan.

Bagi suatu perguruan tinggi yang memiliki ijin Menteri, menangani kasus tindak plagiat itu adalah tugas sederhana yang paling mendasar. Ia seperti rumus Phytagoras dalam ilmu aljabar. Jika sebuah perguruan tinggi tidak kunjung sanggup menyelesaikan tugas yang demikian mayar, saya menyarankan agar ia segera bubar.

Negeri Atas Angin sedang menggelar perhelatan untuk menumbangkan rekor dunia. Ia telah membentuk begitu banyak tim untuk mengusut tindak plagiat sederhana. Tim Ini, Tim Anu dan Tim Ana ternyata telah berpendapat sama, bahkan sudah sejak lama. Saya hanya bisa ngudarasa bagaimana sebuah negeri atau sebuah perguruan tinggi bisa memasuki industri generasi kelima jika ia tidak mampu mengurus perkara sederhana.

Sebuah ulasan media sanggup menembus dan menyibak angin dingin Osaka. Setelah postingan perjalanan keluarga Jakarta-Kansei-Narita, ulasan itu membangunkan mata yang kemudian terus sibuk membaca dan memeriksa data. Konon para plagiator akan menggugat semampu bisa dan berdalih disertasinya telah melalui saringan berlapis para dewa. Mereka sedang berfikir bahwa perguruan tinggi telah menanam alpa karena tidak menjalankan tugasnya.

Kecuali Tim Eka, sejatinya disertasi-disertasi itu tidak pernah ada yang membaca termasuk Bathara Naradha sang pendekar para dewa. Sebagian para dewa itu sekarang masih menduduki singgasana meski sudah lama kehilangan mantra. Dongeng ini memang bagian dari cerita wayang purwa yang masih terus mencari cara suatu negeri bisa memasuki Pendidikan Tinggi 4.0 (Waras Kamdi, Kompas, Sabtu 3 Maret 2018) dengan modal doktor minus lima. Wass.sr

Supriadi Rustad, Tim Evaluasi Kinerja Akademik (EKA) Perguruan Tinggi, Kemenristekdikti; Guru Besar Universitas Dian Nuswantoro, Semarang; Anggota Majelis Pendidikan Tinggi (2015-2019).

Share0
Share0
http://supriadirustad.blog.dinus.ac.id/2018/03/07/robohnya-universitas-kami-12-dikti-4-0-dengan-doktor-5-0/
Share

14 thoughts on “Robohnya Universitas Kami (12): Dikti 4.0 Dengan Doktor -5.0

  1. Maju terus prof Supriadi, semoga semakin banyak akademisi yg peduli dan berani menghadapi “wabah” plagiasi yg memalukan bangsa ini.

  2. *Plagiasi*, sebuah budaya yang dimulai seseorang ketika masih menjadi peserta didik di level sd, smp, sma dan pt, dengan cara *ngepek atau nyontek* pekerjaan teman.
    Mungkin iman dan kepercayaannya sudah dibawa burung nazar terbang entah ke negeri mana, sehingga tinggal tubuh bernyawa, berhati ????, memelas sekaligus tak perlu dikasihani.
    Karakter inikah yang hendak kita jumpai di 2045, saat *negeri Alengka jaman Rahwana* mengalami transformasi menjadi *negeri fakta*?

    Pak Pri, *asma panjenengan* menyiratkan jika bukan *citra*, Su = lebih, priya = lelaki, adi = paling, ter, nan; minyiratkan keberanian dan kejujuran nan hakiki.
    Teruslah berjuang di antara belantara kemunafikan, meski saya hanya *tukang adol abab*; saya tetap salut dan apresiatif untuk *kiprah* panjenengan.

    Semoga TUHAN YME, memberikan hikmat dan kebijaksanaan sehingga mampu *ngrampungi gawe*, mendapat ikan tanpa harus *ngubek – ubek banyune*, pada lahan yang menjadi *pelayanan dan tanggungjawab* jengandika.

    Rahayu. Rahayu. Rahayu.

  3. Lanjut berjuang, berbagi pencerahan…pendidikan yg benar akan bermuara oada kemajuan, sementata yg keliru bukan saja hanya jalan

    di tempat, malah melenceng-misleading…salam…

  4. Tidak ada alasan bagi siapapun untuk membiarkan anak bangsa ini dengan memaafkan seorang plagiarisme untuk memperbaiki karyanya. Plagiat itu sebuah pelanggaran berat etika akademik yang harus dimusnahkan. Kalau ini dimaafkan apa jadinya anak bangsa ke depan.

  5. GANYANG PLAGIARISME Pak Supriadi, plagiat benar-benar mengganggu rasa keadilan bagi mereka yang benar-benar menjunjung tinggi etika dan peraturan akademik dalam menghasilkan suatu karya ilmiah. Tindakan plagiarisme oleh Doktor dan Profesor dalam setahun terakhir ramai diberitakan. Semoga pihak Kemenristekdikti tegas dan konsisten mengganyang siapa saja yang melakukan tindakan plagiarisme.

  6. Blog yg luar biasa dari orang yg luar biasa. Saya terpaku di blog ini dari ba’da shalat isya sampai setengah sebelas. Terlalu mengasyikkan untuk tidak dituntaskan. Insipiring. Terima kasih untuk tulisan yg mencerahkan.

  7. Assalamu alaikum Prof.
    Sekali layar terkembang pantang surut kebelakang. Selamat berjuang Prof , Semoga menjadi jihad untuk generasi masa yang akan datang. Ada kata filosofis yang tersohor, jika seorang dokter salah mendiagnosis penyakit mungkin hanya satu anggota badan yang teramputasi, tapi kalau salah dalam mendiagnosis pendidikan barangkali bukan hanya satu generasi tapi generasi seterusnya teramputasi. Salam Prof dari Arisona (dosen UHO Kendari dan yunior ITB tahun 1998 di jurusan Fisika) dan Teman karib dar bapak Catur dari mercubuana university. Sekarang S3 di Universiti Sains Malaysia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *