Robohnya Universitas Kami (11): Doktor Dengan Disertasi Belum Selesai ?>

Robohnya Universitas Kami (11): Doktor Dengan Disertasi Belum Selesai

Tulisan ini berisi dongeng kabur kanginan sekedar untuk mengapresiasi keindahan sebuah seni tari. Ini komentar dini hari dari seorang penikmat seni. Kalau kalian masih terus menari-nari, tak akan berjeda aku menepuki. Kalau engkau awet berlari-lari, jangan pernah meminta berhenti guratan jejak kaki.

Syahdan di Negeri Atas Angin ada wacana baru yang tidak umum turun dari ahli nujum. Doktor yang karya ilmiahnya terbukti plagiat tidak perlu dihukum. Ijazahnya tidak dibatalkan dan gelarnya tidak dicabut, tetapi ia diwajibkan memperbaiki disertasinya dalam waktu hingga beberapa tahun. Sebagian anggota komisi akademik tertegun tetapi tidak sedikit pula yang menebar senyum.

Negeri yang mengawang di atas awan itu tak henti-hentinya menghasilkan inovasi definisi. Ketika ijazahnya masih berlaku tetapi disertasinya belum berlalu, maka gelar akademiknya menjadi doktor dengan disertasi belum selesai. Ini jelas terobosan baru di bidang pernujuman yang syarat novelti sehingga layak mendapatkan Haki.

Tak lain dan tak bukan, guru terbaik itu adalah pengalaman. Beberapa tahun lalu kasus plagiat pernah menimpa 2 orang menteri Jerman yaitu Karl Theodhor zu Guttenberg dan Anette Scavan. Penyelidikan universitas menyimpulkan bahwa sebagian dari thesis/disertasi kedua menteri terebut ternyata hasil jiplakan. Kedua pejabat tersebut tidak mampu bertahan dan akhirnya mengundurkan diri seiring dengan ijazahnya dibatalkan.

Di Hongaria dan Romania, kasus plagiat menimpa pejabat sangat tinggi. Pada tahun 2012, pembatalan ijazah doktor presiden Hongaria Pal Schmitt oleh Universitas Semmelweis di Budapest, mengakhiri polemik panjang dan memaksa sang presiden mengundurkan diri. Pada tahun yang sama di Romania kasus plagiat menyasar seorang perdana menteri.

Di Indonesia, kewibawaan menegakkan integritas akademik malah sudah dicontohkan sejak lama. Pada Maret tahun 2000, Ichlasul Amal (rektor UGM ketika itu) memimpin rapat senat dan kemudian membatalkan ijazah doktor dari seorang yang sudah lama terkenal sebagai kolumnis di sejumlah media. Baru ketika disertasinya dicetak menjadi buku, isinya membuat kaget seorang pembaca yang kebetulan pemilik asli karya skripsi sarjana.

Institut Teknologi Bandung (ITB) tidak kalah berwibawa dari sejawatnya di Yogyakarta. Pada April tahun 2010, Prof. Ahmaloka selaku rektor membacakan keputusan pembatalan ijazah S3. Disertasi yang dipermasalahkan ternyata hasil jiplakan karya ilmuwan luar negeri 8 tahun sebelumnya.

Pengalaman mengajarkan bahwa keputusan terkait dengan tindak plagiat selalu bersifat hitam putih. Kasus plagiat yang sedang menimpa, dimanfaatkan sebaik-baiknya oleh perguruan tinggi terkait untuk menunjukkan bahwa institusinya adalah institusi yang bersih. Keraguan dan keabuan suatu keputusan terkait tindak plagiat hanya akan menyisakan perasaan perih dan pedih.

Keabuan suatu keputusan biasanya disebabkan oleh perasaan bersalah seluruh pemangku kepentingan. Para pengambil keputusan dihinggapi perasaan ragu karena pada dirinya melekat bebagai kekurangan, kesalahan dan kealpaan. Ketika situasinya demikian, hasil akhirnya adalah keputusan mengambang yang seringkali mengejutkan masyarakat awam dan mempermalukan peradaban.

Keraguan sebuah keputusan juga bisa terjadi jika si pengambil keputusan sedang mendapatkan banyak tekanan dan ancaman. Ini bukan masalah kepandaian atau kepintaran tetapi masalah keberanian dan nyali menghadapi sejumlah gugatan dan pemeriksaan. Ke depan ada baiknya kepada para pimpinan perguruan tinggi dipaparkan sejumlah pengetahuan tentang pengalaman menghandel kasus pendidikan tinggi yang masuk ranah kepolisian, kejaksaan dan pengadilan.

Apapun yang menjadi latar belakang, sebuah keputusan tidak boleh dijadikan bahan candaan dan tertawaan. Semua pihak harus menghormati setiap keputusan yang telah diambil oleh pejabat yang ditunjuk oleh Kementerian. Dongeng ini maksimal hanya berfungsi sebagai masukan sebelum sang pemimpin mengambil keputusan.

Sebuah masukan wajib diberikan kepada teman yang sedang mengalami kesulitan. Tanda-tanda adanya kesulitan sangat jelas terpancar dari lamanya penyelesaian. Dua tahun lalu saya ditugasi ke universitas di pulau seberang, kasusnya berujung pemecatan dan selesai hanya dalam waktu sekitar 1 bulan. Sementara kasus yang mirip di Negeri Awan, tidak kunjung selesai meski telah menghabiskan waktu 18 bulan. Bahkan, lima bulan lalu seluruh padang ilalang telah diratakan menjadi hamparan yang sungguh sangat lapang.

Setidaknya ada dua alasan mengapa disertasi hasil tindak plagiat tidak bisa diperbaiki dan ijazah yang terkait dengannya mesti dibatalkan. Pertama, pembatalan ijazah itu merupakan perintah peraturan. Pasal 12 ayat (1) huruf g Permendiknas no 17 Tahun 2010 menyatakan bahwa sanksi bagi mahasiswa yang terbukti melakukan plagiat adalah pembatalan ijazah apabila mahasiswa telah lulus dari suatu program.

Kedua, setiap dokumen karya ilmiah skripsi, thesis dan disertasi selalu memuat lembar pernyataan tentang keaslian karya. Lembar pernyataan itu ditandatangani oleh peserta dan selalu ditutup dengan pernyataan tegas bahwa jika terbukti plagiat, peserta bersedia menerima sanksi pembatalan ijazah dan sanksi lainnya. Kedua argumen di atas menunjukkan bahwa sejatinya konstruksi hukum di Permendiknas dan tatanan etika di perguruan tinggi telah satu kata. Tentang pembatalan ijazah lulusan yang melakukan tindak plagiat, rasanya tidak perlu lagi ada perasaan gamang bagi pimpinan perguruan tinggi tak berdosa.

Ada sejumlah alasan mengapa saya tidak setuju perguruan tinggi memberi kesempatan sang doktor plagiat memperbaiki disertasi tanpa membatalkan ijazah. Pertama, saya tidak menemukan rujukannya baik secara teori peraturan perundangan maupun empiris dalam sejarah. Ketika seorang mahasiswa telah dinyatakan menjadi lulusan, maka peraturan akademik apapun dari suatu perguruan tinggi tidak lagi bisa mengikat alumni secara sah.

Kedua, sanksi perbaikan disertasi tanpa pembatalan ijazah akan menimbulkan kerancuan data dan logika. Selama yang bersangkutan memperbaiki disertasi, maka ia akan berstatus ganda yaitu sebagai alumni dan sekaligus mahasiswa. Selama itu pula ijazah yang bersangkutan tidak memiliki status hukum yang sah sehingga berpotensi menimbulkan banyak perkara.

Keputusan yang baik adalah yang mampu menyediakan solusi pasti. Saya tidak bisa membayangkan apa yang terjadi sekiranya nanti perbaikan disertasi itu tidak kunjung selesai. Untuk melaporkan data penyelenggaraan perbaikan disertasi, mungkin Kementerian harus membongkar algoritma PD Dikti.

Ketiga, sebagaimana bisa disimak melalui dongeng sebelumnya, disertasi yang terkait dengan kasus tindak plagiat yang sedang menjadi tema dongeng ini mustahil bisa diperbaiki. Di samping mengandung unsur plagiat serius, disertasi-disertasi itu telah terbukti menyesatkan ilmu pengetahuan dan program studi. Ia tidak mencerminkan produk keilmuwan sebagaimana tercantum pada capaian pembelajaran program studi, tetapi berisi celotehan ngalor ngidul seenak perut sendiri. Saya tidak mengamati adanya kemesraan hubungan konteks antar bab dan bahkan antara judul dan isi.

Meski perguruan tinggi sanggup menyediakan promotor hebat untuk membimbing doktor plagiat, namun pelanggaran yang terjadi pada pengadaan disertasi itu sederajad dengan plagiat kuadrat. Ketika kita sedang membicarakan disertasi doktor program studi manajemen sumber daya manusia, disertasi-disertasi itu malah fokus membahas aspal, kondom dan bank rakyat. Wacana memberi kesempatan untuk memperbaiki disertasi dengan tema demikian jelas tidak masuk di akal sehat.

Saya berharap pimpinan peguruan tinggi dan komisi akademik dapat mengambil keputusan yang benar. Di samping terjadi bukan di perguruan tinggi gurem, kasus ini juga melibatkan orang tenar dari perguruan tinggi sangat besar. Saya sama sekali tidak berharap keputusan tentang sanksi nanti hanya menambah gelak para penggemar kelakar.

Memberi kesempatan kepada mereka yang bersalah adalah sebuah tindakan mulia. Ia bisa dikawinkan dengan semangat perguruan tinggi menegakkan etika. Pembatalan ijazah merupakan langkah wajib yang pertama untuk memulihkan statusnya sebagai mahasiswa. Langkah berikutnya perguruan tinggi memberi kesempatan kepada para peserta untuk melanjutkan studi tanpa dipungut beaya.

Menerangi mereka yang sedang kegelapan merupakan tindakan yang disukai oleh Tuhan. Dalam masa perbaikan ada baiknya ditengok ke belakang untuk memastikan para peserta telah mengikuti dengan benar seluruh proses perkuliahan dan penelitian. Pada catatan dongeng sebelumnya, kedua aspek itu disebut-sebut sangat meragukan.

Sebagai sebuah masukan, dongeng ini mencoba mewarnai suatu keputusan. Ketika nanti keputusan akhirnya sejalan, saya yakin itu hanya kebetulan. Sebaliknya ketika nanti keputusannya tidak sealiran karena perbedaan pandangan, saya pun siap memberikan penghormatan. Pada ujung tulisan ini saya mengajak para pembaca sekalian untuk mendukung apapun keputusan perguruan tinggi dan Kementerian.

Supriadi Rustad, Tim Evaluasi Kinerja Akademik (EKA) Perguruan Tinggi, Kemenristekdikti; Guru Besar Universitas Dian Nuswantoro, Semarang; Anggota Majelis Pendidikan Tinggi (2015-2019).

Share0
Share0
http://supriadirustad.blog.dinus.ac.id/2018/02/26/robohnya-universitas-kami-11-doktor-dengan-disertasi-belum-selesai/
Share

12 thoughts on “Robohnya Universitas Kami (11): Doktor Dengan Disertasi Belum Selesai

  1. Yaaa bagaimana saya mau mengundurkan diri gara2 plagiatπŸ€” wong sy ngk tau.. yg nulis disertasiku yoo anak buahku??πŸ€”πŸ€”πŸ€”πŸ€”πŸ€”πŸ€”πŸ€”πŸ€”????

  2. Yang terhormat Prof. DR. Supriyadi Rustad, M.Sc.

    Salut dan penghargaan setinggi-tingginya untuk pak Pri, dengan bekal sebagai Profesional nan Kompeten, Tim Evaluasi Kinerja Akademik (EKA) Perguruan Tinggi, Kemenristekdikti; Guru Besar Universitas Dian Nuswantoro, Semarang; Anggota Majelis Pendidikan Tinggi (2015-2019); saya percaya dan yakin Ptof akan *memberikan pencerahan* berupa *citra putih* di antara *batik kontemporer dan abstrak* dunia ilmiah jenjang tertinggi di negeri tercinta.
    Meski saya hanya pemerhati, namun *doa tulus dan harapan* patut saya persembahkan untuk Profesor yang *tak ragu terhadap ketidak beresan institusi bernama perguruan tinggi*.
    Semangat Prof, meski sendiri, TUHAN Yang Maha Esa mengasihi dan memberi hikmat kebijaksanaan kepada pecinta *kejujuran sebagai falsafah dan budaya hidup*

    Saya yang diam-diam mengagumi ketulusan dan keikhlasan hati Prof. DR. Supriyadi Rustad, M.Sc.

    Widodo Sih Mirmanto

  3. Sangat setuju pendapat Prof H Supriadi Rustad. Dibatalkan karena revisi setelah lulus maka statusnya mahasiswa. Sangat masuk akal dan logika.

  4. Ass ww, pembatalan ijasah dari disertasi yg plagiat bersifat mengikat dan final karena itu bentuk pelanggaran etik yg berdampak efek jera bagi masyarakat campus. Kalo mau dipidanakan boleh tapi kurang bermanfaat bagi rasa keadilan yg seimbang antara pelaku plgiat dan kepentingan bangsa dan negara. Terus berjuang prof, saya dibelakang prof untuk peningkatan mutu prodi, fakultas dan universitas yg setara dg mutu universitas negara asing. Salam hormat unt prof sekeluarga

  5. Selamat Prof. Supriadi. Itu memang sudah seharusnya tidak boleh ditolerir. Mengapa Indonesia agak sulit utk maju pada bidang akademik? Salah satunya adalah faktor ketidaktegasan para pemangku Perguruan Tinggi dalam memberikan sanksi kepada “pembuat dosa besar” (murtakibul kaba’ir) dalam dunia akademik, di antaranya pelaku plagiarisme. Terus maju Prof., pantang mundur, layar sudah terlanjur berkembang…! Salam PRO-M U T U…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *