ROBOHNYA UNIVERSITAS KAMI (8): Puisi Dari Negeri Dongeng dan Plagiat di Perguruan Tinggi ?>

ROBOHNYA UNIVERSITAS KAMI (8): Puisi Dari Negeri Dongeng dan Plagiat di Perguruan Tinggi

Negeri Atas Angin ternyata banyak melahirkan dongeng. Negeri elok rupawan yang mengawang di atas awan itu kini tengah berusaha menyeka wajahnya yang bopeng. Alhamdulillah, ia akhirnya menyadari harus sedikit merendah untuk merasakan terjangan angin agar terjadi hujan pegunungan yang mengguyuri seluruh permukaan lereng.

Dongeng-dongeng itu pernah dikira sebagai serangan terhadap pribadi seorang pimpinan, padahal sejatinya ia adalah sebuah pertahanan seorang petugas pemerintah dari berbagai macam ancaman dan gugatan. Rumus dasarnya adalah bersembunyi di tempat yang terang. Ketika petugas itu datang berbaikan mengulurkan salaman, sang pemimpin malah mengangkat tangan mengacungkan kepalan. Yang jelas, ajakan kepada kebaikan sudah pernah disampaikan baik secara tertulis maupun lesan. Puisi bunga hati berikut ini memaparkan nukilan kisah tentang ajakan kebaikan yang direspon dengan sejumlah laporan.

Nawaitunya ikut berkontribusi untuk memperbaiki…
Malah disalahtafsiri…
Mengundang 1 kali dan mengujungi 2 kali…
Itulah ajaran silaturahmi…
Datang mendekatkan diri….
Eh..malah dilaporkan ke kejaksaan dan polisi…
Bahkan yang terkini dilaporkan pula hingga ke presiden Jokowi
Melindungi diri agar tetap melangkahkan kaki…
Menjunjung harga diri agar tetap memiliki hati nurani…
Adalah naluri yang paling Azasi

Sewaktu muda di kampung saya termasuk pasukan inti suatu kesebelasan. Meski berpostur tidak tinggi, saya sangat menikmati tugas sebagai Bek kanan dan sempat mengidolakan Suharto, palang pintu PSMS Medan di era PSSI perserikatan tahun 79-80-an. Ketika di lapangan, sangat jarang saya berada di depan, paling banter maju sedikit berotasi sebagai gelandang serang.

Tidak seperti pemain depan yang berpeluang tinggi mendapatkan bonus dan pujian, pemain belakang menjalankan tugas mulia karena tugas utamanya mengamankan gawang. Kalau gawangnya kebobolan ia akan banyak menerima cacian. Beban tugasnya semakin berat menjadi-jadi ketika ia menerima banyak tekanan dan serangan lawan. Itulah sekelumit gambaran yang kini dialami oleh Tim Evaluasi Kinerja Akademik (EKA), sibuk berjibaku membanting tulang melapis pendidikan sebagai benteng terakhir sebuah peradaban. Pada posisi sebagai ketua Tim, saya digerakkan oleh naluri bertahan, meski suatu ketika bisa terjadi bahwa pertahanan yang paling baik itu adalah menyerang.

Dulu saya beranggapan bahwa melaporkan mahasiswa atau dosen kepada polisi itu tindakan bodoh. Sekarang saya baru tahu, ada yang beranggapan bahwa laporan ke polisi itu termasuk sodaqoh. Perbuatan lapor-melapor yang dilakukan berulang-ulang telah meneguhkan karakter lalim sang tokoh.

Petinju bertanding di ring dunia lebih banyak digerakkan oleh pertimbangan professional dari pada alasan individual. Sehabis menghajar babak belur lawan-lawan nya, tokoh pujaan dari seberang pulau Manny “Pac-Man” Pacquiao selalu berujar bahwa pada pertandingan yang baru saja dilakoninya, there is nothing personal. Anak atau menantu dari petinju lawan mesti banyak belajar tentang jiwa besar memaknai sebuah pertandingan tingkat internasional.

Tim Eka mengunjungi perguruan tinggi jika ia ditugasi. Ia menjalankan tugas yang tentunya relatif jauh dari motif pribadi. Tulisan-tulisan saya di blog dengan pengunjung yang kian ramai, sejatinya bukan sebuah serangan kepada siapapun, tetapi merupakan bentuk pertahanan diri terutama dari serangan sejumlah alumni yang dimobilisasi oleh pimpinan perguruan tinggi.

Mestinya alumni berhimpun untuk menjaga kemashuran dan keharuman nama institusi. Aneh rasanya ketika ada sekelompok kecil alumni telah terbukti merendahkan makna disertasi, alumni yang lain, yang tidak ada sangkut pautnya dengan visitasi, justru membabi buta melapor kesana-kemari. Saya merasa tersanjung telah dilaporkan ke Presiden Jokowi oleh sekumpulan alumni, ada jenderal, rektor, kaprodi, profesor dan politisi. Masyarakat justru akan semakin didorong bertanya-tanya apakah mereka juga termasuk alumni yang terlibat plagiasi?.

Masa kecil di ujung kampung banyak momen saya nikmati bermain dengan kang Bani, teman senior setengah tuli penggembala ternak kambing gibas ustrali milik keluarga. Saya mengamati ada satu gibas yang aneh perilakunya. Saya selalu mendapati ia berjalan sendiri jauh terpisah dari kawan-kawannya. Rupanya ia telah dikucilkan oleh kelompoknya. Saya tentu mengapresiasi pernyataan himpunan alumni yang sedang mencoba menjaga martabatnya, dan lebih bangga lagi jika kemudian ia berani mengusir anggotanya yang terbukti melakukan perbuatan tercela. Alangkah malu dilihat matahari, jika manusia apalagi himpunan cendekiawan, tertinggal berfikirnya dari segerombolan domba.

Hantu Persentase Kemiripan
Ada beberapa perguruan tinggi yang suka aneh-aneh menjadikan SK Rektor sebagai bahan guyonan dan gegojegan. Supaya budaya akademiknya kelihatan, ia mengatur tata cara dan etika penulisan dengan mengutak-utik angka atau persentase kemiripan. Pada hakekatnya plagiat merupakan tindakan curang sehingga sama sekali tidak diperlukan adanya toleransi kemiripan.

Mendeteksi kecurangan dapat dilakukan dengan berbagai macam instrumen. Boleh jadi toleransi kemiripan yang diadop oleh beberapa perguruan tinggi itu meniru aturan yang diberlakukan pada pedoman sertifikasi dosen. Sejak tahun 2011 yang masih berlaku hingga sekarang, pada pedoman sertifikasi tercantum aturan tentang toleransi kemiripan kurang dari 50 persen.

Kecurangan akademik pada pengisian Deskripsi Diri dan pada penulisan karya ilmiah jelas memiliki perangai yang berbeda. Pada instrumen Deskripsi Diri, kepada setiap dosen diajukan sejumlah pertanyaan atau perintah yang sama untuk kegiatan yang sama. Berdasarkan hasil penelitian pada tahun 2011 terhadap 50 orang dosen sukarelawan, ketika kepada mereka diajukan pertanyaan atau perintah yang sama untuk kegiatan yang sama, ada potensi mereka menghasilkan jawaban yang sama pula. Melalui kajian mendalam, akhirnya dirumuskan bahwa seorang dosen didefinisikan melakukan kecurangan jika jawabannya memiliki kemiripan minimal 50 persen pada lima kegiatan diri yang berbeda.

Dibanding kecurangan copy-paste pada sertifikasi dosen, tindak plagiat merupakan salah satu bentuk kecurangan akademik yang berbeda meski akarnya sama. Pada penulisan karya ilmiah, seseorang justru diharapkan mengungkapkan sesuatu yang berbeda dengan cara berbeda dan juga untuk kegiatan yang berbeda. Toleransi kemiripan berapapun angka persentasinya akan memantik dunia ikut bergelak tertawa, apalagi ia tercantum secara resmi di dalam sebuah SK.

Pada penulisan karya ilmiah, hasil uji Turnitin atau uji kemiripan lainnya jelas tidak bisa dibanggakan. Ia hanya sebuah indikasi awal ihwal terjadinya pelanggaran. Jika anda berhenti pada persentase kemiripan, bisa diibaratkan anda kuliah ke kampus hanya sampai di pintu gerbang. Untuk menemukan bukti terjadinya tindak plagiat diperlukan tahapan persandingan karya ilmiah dengan kajian yang sangat mendalam terutama oleh para ahli yang ilmuwan.

Di dalam konteks penulisan karya ilmiah, jangan pernah mengajarkan toleransi kemiripan. Jika hal itu dilakukan, sama artinya dengan melegalkan berbagai bentuk pelanggaran. Yang mesti dilakukan oleh para dosen adalah menyemai nilai-nilai kejujuran dengan cara mengurangi sikap malas dan watak serakah menjalankan tugas pembimbingan.

Plagiat atau Jual Beli
Teori sebelumnya menyatakan bahwa tindak plagiat itu bukan suatu keumuman tetapi kasus. Di dalam kurva normal, ia representasi dari data pencilan yang amat khusus. Umumnya ia lahir sekali selama beberapa tahun oleh perilaku celingus yang malas bekerja secara serius.

Teori terbaru dari Atas Angin mengabarkan bahwa tindak plagiat itu ternyata bisa merupakan keumuman. Ia dilakukan secara masif dan sistematis hingga mampu menembus saringan pengelola, penjaminan mutu, pembimbing dan panitia ujian. Dalam satu musim wisuda, pelakunya tidak hanya satu tetapi sekumpulan orang. Mereka yang semestinya memiliki kewajiban membangun budaya akademik untuk menyemai nilai kejujuran itu kini telah bermetamorfosa menjadi kawanan gerombolan.

Tindak plagiat yag dilakukan secara bermai-ramai patut diduga melibatkan praktik dan transaksi jual beli. Apapun topiknya, asal mereka adalah mahasiswa pejabat, nama promotor dan penguji luarnya sudah sangat pasti, sedang nama petugas lainnya ya tetap itu-itu saja, cuma hanya berganti posisi. Saya tidak tahu lagi, apakah tragedi pendidikan yang amat kelam ini bisa dinyatakan selesai ketika sudah cukup banyak orang yang turut menangisi?

Supriadi Rustad, Tim Evaluasi Kinerja Akademik (EKA) Perguruan Tinggi, Kemenristekdikti, Guru Besar Universitas Dian Nuswantoro, Semarang. Anggota Majelis Pendidikan Tinggi (2016-2021).

Share0
Share0
http://supriadirustad.blog.dinus.ac.id/2017/09/10/puisi-dari-negeri-dongeng-dan-plagiat-di-perguruan-tinggi/
Share

11 thoughts on “ROBOHNYA UNIVERSITAS KAMI (8): Puisi Dari Negeri Dongeng dan Plagiat di Perguruan Tinggi

  1. Yth.Prof.Supriadi Rustad. Kembali saya menyampaikan keprihatinan saya atas respon negatif dari hasil kerja Team EKA bapak dkk. Bp dkk dgn jujur telah berhasil membuat potret ttg beberapa perguruan tinggi dan semua masyarakat akademisi bisa melihat hal itu sebagai cermin. Saya percaya masih sangat banyak intelektual bangsa ini yg memiliki integritas akademik yg baik,walau disana ada segelintir mereka yg agak kurang terpuji. Bangsa ini ke depan masih sangat banyak butuh Rsi2 Bhisma dan bukan bagawan2 Drona. Salut tuk bapak dkk.Salam hormat dari Gde Samba…bukan akademisi…

  2. Assalamualaikum Pak Supriadi. saya sangat senang Bapak mengungkapkan bahwa plagiasi tidak boleh ditoleransi sedikitpun. Plagiasi sangat merusak inovasi dan kreativitas sumberdaya manusia Indonesia untuk mewujudkan kemandirian Bangsa yang sering didengungkan oleh para pemimpin di Indonesia. Selamat berjuang Pak. Kalau boleh saran Pak bagaimana dalam proses akreditasi suatu Program Studi atau Perguruan perlu dimasukkan komponen plagiasi dalam penilaiannya.

  3. Salam Prof.
    Saya tidak terlalu mengenal sosok anda, namun stelah membaca tulisan dan melihat kembali kinerja Tim EKA, tidak membutuhkan waktu lama untuk mengagumi anda.

    Semoga selalu dalam lindungan yang maha kuasa Prof.
    Salam Hormat dari saya.

  4. Assalamu Alaikum Prof. Selamat berjuang demi kejayaan bangsa dan negeri tercinta ini. Saya alumni doktoral dari PTN yang pernah Bpk Pimpin ikut mendukung langkah Bapak dkk. dalam rangka memberantas praktek plagiaris yang marak terjadi. Semoga Bapak Prof. Supriadi dkk selalu dilindungi oleh Allah Swt. dan teguh menjalankan tugas yang amat mulia ini. Amin

  5. Tanpa pemain belakang, sebuah tim bisa porak poranda, begitu pula dengan yang telah disampaikan Prof di UNISSULA pagi ini, yang dapat saya simpulkan: ketiadaan integritas akan menghancurkan bangsa.
    Semoga tetap dalam lindungan Allah.

Leave a Reply