Sepotong Kue Lebaran Dari BAN PT ?>

Sepotong Kue Lebaran Dari BAN PT

Kisah perjumpaan dengan perguruan tinggi swasta (PTS) yang satu ini terjadi pada awal tahun 2013.  Ketika itu saya sedang bertugas sebagai Direktur Pendidik dan Tenaga Kependidikan (Diktendik), Ditjen Dikti, dan sedang “menghukum” lebih dari 400 PTS yang melakukan pelanggaran data dosen, termasuk PTS yang sesungguhnya tidak jauh dari saya bertempat tinggal. Sebelum perjumpaan itu pengetahuan tentang PT itu sungguh sangat terbatas sekali.

Yang saya maksud dengan “hukuman” sejatinya hanya lecutan kecil agar PT segera merapikan datanya. Sejumlah dosen yang memiliki NIDN (Nomor Induk Dosen Nasional) terbukti merupakan guru-guru sekolah dasar dan menengah yang telah tersertifikasi. Data demikian jelas menyulitkan siapapun pemegang tusi pembina dosen. Hukumannya adalah berupa penghentian sementara layanan pembinaan dosen seperti sertifikasi, kenaikan jabatan, usulan NIDN baru dan lain-lain, sampai PT benar-benar telah membersihkan datanya.

Pagi itu mas Wasis, sekretaris yang terkenal tajam ingatan itu, melaporkan bahwa sejumlah pimpinan PT dan Yayasan  dari Semarang ingin bertemu direktur terkait dengan data dosen. Bergegas saya memerintahkan staf untuk menyiapkan laptop di ruang sidang lantai 5, yang  1  tahun kemudian resmi bernama Ruang Geugeut (baca kisah sebelumnya “Ibu yang mencerdaskan”). Maksud dari laptop adalah gelaran data PD Dikti lengkap dengan bukti-bukti pelanggaran.

Sebelumnya, PT yang pernah datang terkait dengan data dosen umumnya  menyampaikan protes atas sanksi penghentian sementara layanan diktendik. Biasanya, protesnya pun juga hanya bermodal “dhengkul” yang gampang sekali dipukul mundur. Laptop itu sudah terlalu banyak memakan korban pemrotes yang ngeyel. Sangat banyak oknum pimpinan PT dan yayasan yang ternyata tidak mengenal sama sekali nama-nama dosen yang tercantum pada laporan PD Dikti mereka. Baru tahu, ternyata operator PT lebih berkuasa dari pada rektor bahkan ketua yayasan sekalipun.

Seperti biasa saya sudah menyiapkan seluruh jurus sakti di laptop itu untuk menyambut 4 orang tamu yang datang, rektor, ketua yayasan, wakil rektor dan dekan. Namun akhirnya saya tidak sempat menyentuh laptop. Sejak pembicaraan pertama, saya sudah merasakan  ada yang aneh dan berbeda dari pembicaraan dengan tamu-tamu sebelumnya.

Pimpinan rombongan dengan santun mengutarakan 3 hal. Pertama, PT mengakui telah melakukan kesalahan, bahkan detil pelanggarannya pun dijelaskan secara rinci. Kedua, PT menyampaikan permohonan maaf kepada Ditjen Dikti atas terjadinya pelanggaran tersebut. Ketiga, PT memohon untuk dibina supaya menjadi baik dan akan mematuhi segala arahan Direktur.

Berdasarkan pengalaman selama  bertugas di Dikti, baru kali itu ada PT yang dengan suka rela menyerahkan diri. Biasanya penyerahan itu tercapai setelah melalui beberapa kali “pertempuran tak bermutu”, dan akhirnya laptop itu jualah yang menjadi pengadil. Acapkali pertempuran melibatkan Menteri atau Dirjen, namun seingatku nyaris tidak ada yang merepotkan.

Jika di suatu PT kejujuran  bisa ditemukan secara murah dan cepat, maka PT itu, tidak perduli negeri atau swasta, pasti akan segera bersinar di masa depan. Tugas utama PT yang tidak dimiliki oleh institusi lain manapun adalah membangun budaya akademik. Kejujuran tidak bisa ditawar ketika kita hendak membangun budaya akademik.

Sebaliknya, jika suatu PT sudah tidak bisa berbicara benar tentang kejujuran misalnya suka berbelit dan bertele-tele mengurus tindak curang dan plagiat, maka tak lama lagi  kita akan segera melihat tinggalan tulang dan kerangkanya. Pohon kering kerontang pendidikan tinggi telah ditinggalkan akar, daun dan bunganya. Hujan seribu hari tidak akan membuat ranting bersemi, tetapi mempercepat pembusukan sebelumnya akhirnya mati.

Sejak perjumpaan di awal tahun itu diam-diam saya sudah mulai menaruh hati. Menjelang selesai tugas di Dikti akhirnya saya memutuskan merapat berlabuh menjadi dosen di PT itu.  Senang rasanya mendapatkan  jabatan itu kembali, karena sejujurnya sejak dulu saya terlahir sebagai dosen dan tidak pernah merasa menjadi apapun selain itu.

Sebelumnya konon kedosenan saya sudah tidak diakui. Kalau nekat mengaku dosen bisa-bisa dilaporkan ke polisi. Alhamdulillah masih ada perguruan tinggi yang mau membuka pintu, tangan dan hati. Terhitung sejak awal tahun 2015  saya resmi bergabung dengan kampus yang dulu pernah “menyerahkan diri”.

Kesan pertama kampus di pusat kota Semarang itu ialah kesan biru, warna langit, gunung dan lautan penyedia kehidupan dan lambang cinta kasih ibu. Meski tidak seluas umumnya  di negeri, suasana kampus terasa sangat sejuk, tertib dan jauh dari teriakan yag tidak perlu. Hospitalitinya menjulang minta  tandingan. Setiap orang di kampus ini seperti layaknya sahabat. Di mana-mana saya menjumpai dosen, karyawan dan mahasiswa  yang nyaris sama menonjol sopan dan santun, hingga bikin penasaran membayangkan  cara mendidiknya. Saya merasakan sebuah kehangatan ketika berjumpa setiap orang yang saya temui, sangat terasa mereka semua seperti sudah lama mengenali.

Dosen muda adalah sosok yang mendominasi, sementara yang sekitaran usia saya bisa dihitung dengan jari. Pola pikir anak-anak muda itu seperti insinyur yang berburu solusi, sementara saya sering menyaksikan di kampus lain dosen lebih suka berburu persoalan. Pada beberapa sesi diskusi, saya mendengar cukup banyak pertanyaan kritis, namun pendek dan ringkas, tidak sekalipun terdengar pertanyaan kritis yang menceramahi ala orasi politisi. Tidak membutuhkan waktu lama, saya segera beradaptasi dan merasa telah menemukan suasana akademik yang memadai.

Salah satu tip memilih PT adalah melongok sejauh mana karya ilmiah dan proses belajar mengajarnya dapat ditelusuri. Ini merupakan bagian penting dari budaya akdemik karena pada hakekatnya kejujuran itu berwatak terbuka dan perkasa, bukan sesuatu yang diperjuangkan secara sembunyi. Lihatlah Massachusetts Institute of Technology (MIT) yang demikian gagah perkasa dan percaya diri mengumbar open courseware nya.

Kejujuran, keterbukaan dan kesanggupan untuk memberi itu elemen kunci pendidikan tinggi. Secara berurutan ketiganya mencerminkan iman, ilmu dan amal yang sering disebut di dalam regulasi dan kitab suci. Banyak PT  telah membuka diri dengan merelakan sumber-sumber belajarnya dinikmati oleh publik, namun toh hal tersebut tidak membuat PT itu mati tetapi malah   semakin diminati.  Itulah the power of giving, semakin banyak memberi semakin banyak rizki karena mengimplementasikan prinsip-prinsip kejujuran dan keterbukaan.

Memang konon yang diburu dan dibeli tinggi oleh para calon skolar itu adalah budaya akademik.  PT yang tidak berbudaya akademik dapat diibaratkan sebagai PT yang tidak “beriman”.  Di PT semacam ini jumlah mahasiswanya bisa banyak sekali tetapi karya ilmiahnya tidak bisa ditelusuri. PT yang budaya akademiknya antara tiada dan mati, namun ternyata ramai dibanjiri peminat, hakekatnya adalah pusat jual beli ijazah dengan  memanfaatkan stempel negara. Jangan heran, di PT seperti ini,  Tim Evaluasi Kinerja Akademik (EKA) pernah dituduh mencuri, mungkin karena meminjam disertasi tanpa surat ijin dari polisi.

Di jaman apapun kelompok muda sering membawa kejutan kepada kelompok yang lahir sebelumnya. Meski mereka belum banyak pengalaman, namun semangat dan motivasinya sangat tinggi. Niatan saya berbagi pengalaman sering ditafsirkan sebagai instruksi. Seringkali capaian target yang diamanahkan melebihi ekspektasi. Pada saat vitasi pembukaan program dotor Ilmu Komputer pertengahan ramadhan lalu,  Prof. Adang Suandi Ahmad (ITB)  menyampaikan kesaksian kepada saya bahwa anak-anak muda di kampus biru ini bisa menerjemahkan melebihi yang beliau harapkan.

Usia muda kelompok dosen itu ternyata bawaan lahir PT yang usianya juga relatif masih remaja. Pada tahun 2017 ini usianya menjelang 27 tahun sejak sebagai akademi atau baru 16 tahun  sejak menjadi universitas. Beberapa tahun belakangan ini geliatnya mudah diamati, salah satunya adalah meroketnya indikator webometrics yang pada edisi Januari lalu mencapai peringkat 23 nasional untuk swasta dan negeri atau peringkat 5 nasional untuk swasta.

Sebelumnya, perjalanan PT ini telah mengisahkan dirinya sebagai pemain alam, ya tepatnya pemain alam yang penuh bakat. Di dunia bulu tangkis, pemain alam sering memenangi kejuaraan tarkam. Di dunia renang, pemain alam tetap bisa menyeberang meski tidak bisa dikenali pola dan gayanya. Seorang perenang alam tidak memerlukan spesialisasi gaya supaya bisa mengikuti kejuaraan dunia.

Kedatangan saya telah meracuni sehingga sebagian dari mereka sekarang mulai mengenal teori. Sejak saat itu seperti ada keranjingan akan peringkat akreditasi dan peringkat lainnya termasuk peringkat dunia. Saya menyadari bahwa pengejaran peringkat tanpa diiringi substansi sangat tidak menyehatkan masa depan.

Pada perjumpaan pertama koordinasi, saya melihat roman penduduk kampung biru berseri-seri. Baru saja Badan Akriditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN PT) mengumumkan hasil akreditasi institusi bahwa PT ini mendapatkan peringkat B atau amat baik. Terlihat ekspresi bangga dan percaya diri seperti pemain tarkam badminton yang baru saja memenangi kejuaraan tingkat kelurahan. Lama saya berdiam diri dan tidak menanggapi, ingin memberi kesempatan mereka “mikiri”  tentang sesuatu yang berkelindan di benak ini.

Suasana hening tercipta ketika saya mengeluarkan pernyataan penuh emosi bahwa PT ini tidak pantas mendapat peringkat akreditasi B. Seandainya pernyataan itu saya sampaikan di malam hari dengan setting lokasi di desa kelahiran, pastilah angin berhenti berhembus dan belalang serta serangga sebangsanya berhenti bersuara, samirana datan mobah, kutu walang ataga datan mosik.  Boleh jadi mereka menerka saya beranggapan bahwa peringkat C adalah peringkat yang paling sesuai.

Ketika kemudian saya menimpali bahwa mestinya PT ini memperoleh peringkat A, suasana spontan menjadi mencair secara beragam dan penuh tawa seperti lepasnya nafas setelah sangat lama menghela.. Mayoritas penduduk berada pada status antara “percaya dan tidak”, sebagian lain tidak percaya dan geli, namun yang penting bagi saya adalah fakta beberapa orang mulai mengamini. Selanjutnya dan selebihnya, yang keluar dari mulut saya adalah hanya mantra-mantra gombal namun sakti yang di kemudian hari  terbukti dapat menambah energi. Sebuah elektron dapat meningkatkan status orbitnya ketika ia memperoleh tambahan energi.

Pelan tapi pasti “perburuan”  peringkat akreditasi dimulai. Alhamdulillah, pada 3 September 2015 Program Studi S1 Teknik Informatika memperoleh peringkat akreditasi A untuk pertama kali baik untuk sejarah diri sendiri maupun mewakili keseluruhan institusi. Prestasi pertama ini nampaknya menjadi nutrisi yang amat bergizi. Pada ujung tahun itu , 2 prodi di fakultas yang sama ikut tertulari memperoleh peringkat A yaitu S1 Disan Komunikasi Visual pada 14 November dan S1 Sistem Informasi pada tanggal 12 Desember pada tahun yang sama.

Kebaikan, kebenaran dan kesabaran itu harus saling dinasehatkan supaya terjadi fastabiqul khairat, berlomba dalam kebaikan. Keberhasilan dan prestasi di salah satu fakultas telah membuat panas-dingin dan sakit gigi dekan pada fakultas lainnya. Pada kesempatan berikutnya sebagian besar ajuan akreditasi mendapatkan penilaian A, yaitu Akuntansi, Sastra Inggris, Sastra Jepang dan Manajemen (?). Saya biarkan 2 fakultas lainnya menyimpan dendan untuk akreditasi berikutnya tahun depan.

Pada 6 bulan terakhir ini nasib tugas saya berada di ujung tanduk trisula. Saya menyadari ini ketika pelaksanaan tugas sudah melewati separuh perjalanan, mundur tanggung, maju berbahaya. Berserah dan ikhlaskan diri adalah sikap terbaik.

Pertama, saya dan kawan-kawan sudah berjanji kepada  kampus dengan memasang target tertinggi A untuk akreditasi perguruan tinggi. Kedua, belum kering janji diucapkan, mendadak saya ditugasi Menteri untuk menjadi pelaksana tugas rektor Universitas Halu Oleo (UHO) yang sejak tahun lalu dilanda konflik parah. Ketiga, saya tetap mengomandani Tim EKA yang satu tahun terakhir ini harus menghadapi pelanggar kakap, meski bukan berarti harus merujuk  kepada yang paling besar. Di ujung trisula ini saya baru menyadari telah dilatih oleh-Nya untuk mengurus hal-hal akademik sekaligus handling berbagai persoalan dan aduan kepada aparat penegak hukum. Sedikit berlega hati, saya menyaksikan masih sangat banyak aparat hukum berpikiran waras di negeri ini.

Alhamdulillah, ujung ramadhan ini memberikan hiburan hati. Surat Al Insyirah menyebutnya 2 kali, dibalik kesulitan selalu ada kemudahan. Bagi seorang ahli hikmah tidak ada kesulitan yang tidak berujung kemudahan. Setelah pemilihan rektor UHO dinyatakan tuntas pada 16 Juni lalu (baca “Kemenangan Pemilihan Rektor UHO”) sebagai jampi lelah, pada hari ke-27 Ramadhan kemarin Allah telah mengirimkan malaikatnya, BAN PT, yang meniup terompet berita bahwa Universitas Dian Nuswantoro Semarang, si kampus biru itu,  memperoleh peringkat akreditasi A atau unggul.

Sungguh indah hari menjelang lebaran ini mendapat hadiah kue dari BAN PT. Nilainya 366 yang bisa dikatakan lumayan menjorok dari nilai perbatasan 361. Seorang teman sempat berseloroh bahwa konon sekarang mendengar raihan akreditasi A kok menjadi biasa. Saya buru-buru menimpali, memang kebaikan itu sebuah kebiasaan.

Selamat merayakan  Idhul Fitri 1438H, mohon maaf lahir dan batin.

 

Supriadi Rustad, Tim Evaluasi Kinerja Akademik (EKA) Perguruan Tinggi, Kemenristekdikti,  Pelaksana Tugas Rektor Universitas Halu Oleo (UHO) 2016-2017, Kendari,  Wakil Rektor Bidang Akademik Universitas Dian Nuswantoro, Semarang

Share0
Share0
http://supriadirustad.blog.dinus.ac.id/2017/06/23/sepotong-kue-lebaran-dari-ban-pt/
Share

20 thoughts on “Sepotong Kue Lebaran Dari BAN PT

  1. Kerennn…. Sukses Prof SR… Kelak jika budaya ini dipertahankan, anak saya mau sy kuliahkan di Universitas Dian Nuswantoro Semarang.. Selamat Lebaran Prof dan keluarga.

  2. “Setiap orang di Kampus ini seperti layaknya seorang sahabat….” Semoga suasana in I menjadikan semakin Sukses Dian Nuswantoro ..njih Prof Supriadi.,,,Salam

  3. Saya selalu salut pandangan Prof. Supriadi Rustad, saya rasanya kekurangan dalam keseharian saya jika tdk membuka blok pribadi beliau. Semoga bisa menyelesaikan UHO dengan baik sebelum meninggalkannya. Utamanya perbaikan sistem akademik di UHO, sistem manajemen UHO, dan Kinerja Dosen dan staf.
    Yang tidak kurang pentingnya adalah menyelesaikan dugaan Plagiat yg menimpah Calon Rektor terpilih UHO 2017-2021, krn jika hal ini tdk selesai maka akan menjadi penilaian buruk pada masyarakat Sulawesi Tenggara khususnya.

    1. Saya yakin Prof Supriadi Rustat akan menyelesaikan dengan baik, apalagi beliau adalah salah satu dari sekian anti Plagiat yg paling Getol yg saya tau selama ini

  4. Subhanallah. Perjuangan dan Doa, saya dengar dalam sebuah lirik lagu. Tapi ini betul terjadi. Selamat UDINUS…awalnya jujur saya bertemu seorang pejabat daerah semarang dan mereka mengatakan bahwa perkembangan UDINUS luar biasa.

    Saya rasanya kangen sekali mohon petuah seorang guru disana dan alhamdulillah beliau datang dengan senyum khas dan ramahnya.

    Bahasa yang saya ingat, ini wilayah ku, jadi Mas Catur masuk wilayah saya, saya wajib melayani. Siapa beliau?

    Tak lain adalah Prof. Dr. H. Supriadi Rustad, MSi.

    Terus apa makna dibalik pertemuan itu?
    Saya sampaikan beruntunglah saya mendengar pesan pesan beliau, karena tidak satupun merusak sistem. Beliau mengarahkan kepada kebaikan semua PT. Beliau melayani, walau jaih dari Jakarta tujuan lain tugas dari kementerian berbeda, beliau sempatkAn waktu jumpa. Pelayanan ini mungkin hanya sekedar makan malam tapi bertemu dengan pembaharu bagi saya adalah suatu ‘kado’ istimewa yang juga saya terima saat itu.

    Sukses UDINUs terus maju, Prof. Pri, tetap jaga kesehatan…perjuangan masih panjang. Kita berjuang untuk majukan Pendidikan Indonesia.

    Amiin YRA

  5. Selamat dan Sukses Buat Prof SR (ikut-ikutan pakai insial juga)…..atas Kado Ramadhan untuk UDINUS…..semoga aura ini dapat menular ke UHO…yang juga pernah mendapat “sentuhan” Prof SR…..yang juga banyak memiliki tenaga muda berkualitas, dengan energi yang juga melimpah untuk disinergikan…..selamat Prof SR

  6. sukses UDINUS terus maju, dalam suasana semua orang rasanya sahabat. Manusia sebagai bagian alam semesta merindukan suasana yg sama. semua orang diwongke. hadirnya Blog Prof Supriadi Rustat sangat menyejukkan hati yg kering kerontang di tengah robot2 yang bernyawa, mendewakan modal ekonomi, distinction, menghalalkan segala cara, dan sebagainya.

  7. Capaian yg Luar biasa..
    Selamat dan Sukses Prof. SR.
    Smoga menjadi inspirasi buat kami di UHO untuk meningkatkan nilai akreditasi prodi dan institusi.

  8. Selamat atas pencapaian akreditasi institusi A untuk UDINUS, sebagai hadiah lebaran dari BAN PT…selamat iedul fitri , mohon maaf atas segala khilaf

Leave a Reply