Kemenangan Pilrek UHO: sebuah mutiara Sulawesi Tenggara ?>

Kemenangan Pilrek UHO: sebuah mutiara Sulawesi Tenggara

Sempat jengkel dan kecewa kepada kementerian yang tidak kunjung menetapkan jadwal, namun akhirnya waktu telah memilih dirinya. Ramadhan itu bulannya, 10 hari terakhir itu momentumnya dan selepas shalat Jumat itu kejadiannya.

Alhamdulillah, pemilihan rektor UHO periode 2017-2021 telah berlangsung dengan aman, tertib dan sejuk. Tuhan telah mengirim malaikat. Hujan seharian membasahi halaman kampus, mengguyuri dan menyirami jiwa-jiwa kering entah di mana. Banyak orang tidak menyadari hal yang sedang terjadi. Jejeran polisi dan tentara yang berjaga terpojok dan terdesak merapat ke dinding dengan siku yang semakin lancip, sepertinya tidak menyadari hari ini kerja apa.

Hasil yang baik diperoleh melalui proses yang baik. Memang benar Dr. Muhammad Zamrun dinyatakan memenangi kompetisi karena meraup 71 suara, sementara Prof. Buyung Sarita, Ph.D memperoleh 61 suara dan Prof. La Sara Ph.D meraih 16 suara, namun letak titik kemenangan tidak berada di situ. Jabatan rektor bukanlah kulminasi kemenangan.

Kemenangan sesungguhnya diawali pada hari Kamis, 8 Juni lalu ketika Tuhan mempertemukan saya dengan ketiga calon di ruang rektor yang demikian luas itu. Saya mengajak mereka berdiskusi tentang masa depan UHO dengan membuang jauh-jauh dan membebaskan diri dari nafsu berkuasa, toh yang akan jadi rektor kan cuma 1 orang. Jabatan rektor telah menjelma bagai batu keras yang membuat hati menjadi beku. UHO tidak boleh membatu dan membeku. Ia harus mencair, mengaliri ladang gersang dan tambang merana Sulawesi Tenggara.

Dengan seksama saya menyimak para tokoh itu menyampaikan pandangannya. Satu per satu mulai luluh mencair hatinya, kemudian mulai terbata-bata ucapannya. Ya Allah, sungguh agung cahayaMu menyinari hati mereka. Satu per satu berdiri, dan kemudian saling mendekat. Akhirnya mereka menyatu dalam haru satu pelukan mesra sesama hamba. Saya melihat kaca-kaca enam mata di sana yang kemudian terasa membasah di sini.

Tertegun saya menjadi saksi mereka bertiga adalah orang-orang besar untuk kampus dan daerahnya. Itulah karakter asli masyarakat Kendari jika sedang dingin hatinya. Sikap “legowo” (Jawa) saya temukan di daerah ini meski tidak pernah ketemu kosa kata setempat yang tepat. Ya, mereka bertiga telah mempertontonkan budaya baru bagi masyarakatnya.

Berbeda dari sebelumnya, suasana rapat senat hari itu sungguh sangat indah. Saya menatap wajah-wajah pasrah bertebaran senyum ramah di seantero ruangan. Saya iri, begitu mudah ketua senat Dr. Aminudin memimpin sidang. Rupanya waktu jualah yang telah mengurai seluruh persoalan pilrek UHO. Tumben banget, seluruh permintaan dan tawaran pimpinan sidang selalu direspon peserta dengan koor bareng , “setujuuuu” yang disertai derai tawa, sesekali juga suara cekikikan . Tawa-tawa kecil sering terdengar renyah. Sepertinya itu adalah suasana lama yang dirindukan.

Ketika itu aura kewibawaan pak ketua melesat bak meteor hingga sayapun dibuat tak berkutik disuruhnya ke sana ke mari. Mengundang canda peserta, saya cuma bisa geleng-geleng kepala. Awas nanti selepas rapat, mana mungkin berani.

Sejatinya ruang rapat di lantai 4 itu memang sangat nyaman akustiknya. Desah pun bisa terdengar jelas oleh semua peserta sehingga sama sekali tidak diperlukan teriakan apapun. Namun ruangan itu tampaknya telah mencatat sejarah masa lalunya dengan rapi, mikul dhuwur mendhem jero.

Sehari sebelum pemilihan, saya menyiapkan program icebreaking. Saya instruksikan kepada semua calon untuk menyampaikan pantun perdamaian sebelum coblosan dimulai. Saya juga menyiapkan pantun dan lagu yang rencananya dinyanyikan bersama-sama. Namun akhirnya saya membatalkan acara menyanyi bersama karena dengan sejumlah pantun suasana sidang sudah sangat kondusif. Mungkin bait pantun berikut ini telah menyentuh sangat dalam.

Pagi hari membawakan pantun, pantun indah tata bahasanya
Orang Kendari orang paling santun, manakala dingin hatinya

Syair lagu memang saya edarkan sehari sebelumnya kepada panitia dan peserta sidang tanpa not sehingga semua belum mengetahui cara menyanyikannya. Anehnya, ketika saya mencontohkan cara menyanyi, peserta malah bisa menyahut dan mengikutinya. Berikut ini syair lagu tanpa judul tersebut.
Kalah menang itu perkara biasa
Menang terus, tidak biasa
Kalah menang itu perkara biasa
Kalah terus, sudah biasa
Lalalalala lalalalala lalalalalala….2X
Kalah menang itu perkara biasa
Kalau menang, jangan bikin susah
Kalah menang itu perkara biasa
Kalau kalah , tidak masalah

Saya meyakini pengurai persoalan pilrek UHO yang hiruk pikuk selama lebih dari setahun itu adalah waktu. Sesungguhnya manusia itu dalam kerugian, kecuali mereka yang beriman dan beramal sholeh serta saling menasehati berbagi kebenaran dan kesabaran. Enam bulan lamanya kami saling berbagi kebenaran dan kesabaran. Beberapa kearifan Jawa dan nilai agama ternyata sangat cocok juga untuk masyarakat Sulawesi Tenggara. Menang tanpo ngasorake, merupakan prinsip yang paling sering saya aplikasikan untuk meningkatkan daya terima mereka yang kebetulan tidak teruntungkan oleh sistem pemilihan.

Menurut sahabatku yang sedang mengaji di Selandia Baru, kemenangan pilrek UHO memiliki rujukan teoretis. Awal ramadhan datang sebagai berkah yang ditandai turun hujan deras berhari-hari mengguyuri kota Kendari. Sejumlah perumahan dosen basah tergenangi. Dari Semarang saya memantau rumah pak Santiaji, sekretaris rektor yang rajin itu. Alhamdulillah, konon air hanya sempat melongok di depan pagar pekarangan, seakan menyapa dan mengabarkan bahwa rizki akan segera tiba.

Pertengahan ramadhan benar-benar terasakan hadirnya magfirah, sebuah ampunan kepada keluarga besar UHO. Melalui Dr. Laode Ngkoimani (Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan) saya berpesan agar acara SNMPTN dan SBMPTN di kampus dijadikan wahana untuk merajut kerukunan. Awal datangnya ampunan ditandai oleh postingan foto ketiga calon rektor duduk bersama di acara SBMPTN. Konon foto tersebut sangat disukai oleh khalayak ramai. Sejak saat itu saya yakin bila ketiganya sudah tersenyum dan tertawa bersama seperti itu, maka persoalan UHO sudah selesai. Pertemuan ketiga tokoh di ruang rektor tanggal 8 Juni itu memuncaki magfirah sekaligus mengawali kemenangan di 10 hari terakhir ramadhan.

Yang memenangi pemilihan rektor kemarin sejatinya bukan rektor terpilih, tetapi seluruh masyarakat UHO, Kendari dan Sulawesi Tenggara. Tumben, petugas keamanan sudah mengambil posisi begitu rapi sejak pagi, demikian pula tentara dan polisi. Kemenangan ditandai oleh lepasnya nafsu manusiawi animalistik sebagai perwujudan dari itqun minan naar. Sesekali saya mencuri pandang baris di mana ketiga calon berada, terlihat mereka saling pandang dan tersenyum. Mata ini kok ya ikut-ikutan rabun, sudah tidak mampu lagi menembus garis kelompok pendukung yang dulu terlihat demikian tegas.

Di awal rapat saya sempat berpesan kepada seluruh peserta agar menjaga ekspresi yang berlebihan apapun hasilnya. Telah direncanakan sejak awal bahwa acara pilrek ditutup dengan buka bersama. Namun sebagai manusia saya khilaf, merasa telah melanggar pesan itu dan sekaligus melanggar pantangan pribadi di bulan puasa.

Sejak kecil ibu mendidik saya cara berpuasa yang benar dan yang kemudian telah menjadi tradisi hidup bertahun-tahun. Awalnya bermula dari keluhan saya ketika tidur di rumah tetangga dan makan sahur hanya dengan nasi jagung dan 3 lembar daun bayam penghias sayur bening. Juga ibu mengamati kelakuan kami, saya beradik kakak rajin mengumpulkan jambu untuk disimpan bekal sahur nanti. Dengan tutur kata yang tajam beliau menasehati bahwa berpuasa itu pada hakekatnya mensyukuri apa yang ada, berlatih tidak mencari-cari makanan sangat diutamakan. Perih rasanya dulu menerima nasehat itu, tetapi kini saya bersyukur telah diasuh oleh seorang perempuan perkasa berhati malaikat.

Saya mengakui sebagai pemburu kuliner sejati. Jujur saja itulah sesungguhnya “profesi” yang saya tekuni selama ini. Di mana-mana tempat singgah, saya selalu terlibat dalam provokasi berburu makanan khas setempat. Namun itu semua tidak saya lakukan pada bulan ramadhan karena itu pantangan pribadi yang sudah mentradisi. Di bulan puasa untuk sementara saya cuti dari segala macam perburuan dan menghentikan kegiatan pemanjaan lidah. Di rumah juga tidak ada pesanan menu seperti di hari biasa.

Sore selepas pilrek itu mestinya saya bergabung dengan handai taulan buka bersama di kampus. Namun saya tergoda merayakan kemenangan, lagian pak Dr. Agus Indarjo sebagai kuasa Menteri juga bergegas ke Bandara. Saya mengarahkan Sesdirjen Kelembagaan itu buka puasa di Warung Pangkep dekat bypass. Dengan sadar saya “membatalkan puasa berbuka apa adanya” , menikmati Soup Saudara kesukaan.

Saya menyadari tidak semua pembaca memahami latar belakang sehingga muncul tulisan yang terkesan penuh drama ini. Tahun lalu pilrek UHO dibatalkan oleh Menteri beberapa kali. Sebelumnya, selaku ketua senat, Dr. Aminudin mengaku menderita trauma menyelenggarakan pilrek lagi.

Sebagaimana saya singgung pada tulisan sebelumnya, ihwal penunjukan saya sebagai pelaksana tugas menimbulkan sejumlah kontroversi. Belum menginjakkan kaki di Kendari, saya sudah diberondong sejumlah demonstrasi penolakan dari dosen dan mahasiswa. Tak kurang pejabat Ombusman RI, La Ode Ida tak henti-hentinya mengkritisi. Konon saya (SR) dianggap tidak layak memimpin UHO karena hanya berasal dari Wakil Rektor sebuah Perguruan Tinggi Swasta. Beliau menilai Kemenristekdikti lalai dan melakukan maladministrasi pengisian jabatan pelaksana tugas.

Ketegangan demi ketegangan terus menghantuai dan alhamdulillah saya bisa melewati. Selama 6 bulan bertugas telah terjadi 3 kali demonstrasi oleh mahasiswa yang saya temui, namun berita akan terjadi demonstrasi saya terima hampir setiap hari. Saya menjadi sangat terbiasa dan imun dengan suasana seperti itu sekarang. Bahkan pada hari Rabu tanggal 7 Juni saya mengundang seluruh aktivis paling vokal di kampus untuk membahas kebijakan baru tentang isu paling sensi yaitu struktur Uang Kuliah Tunggal. Saya mendengar sejumlah peserta menyampaikan apresiasi karena untuk pertama kali dilibatkan dalam penyusunan kebijakan.

Belakangan ini dunia kampus dipandang sangat seksi untuk hajat perpolitikan di daerah. Gubernur Sultra Nur Alam secara terbuka mengungkapkan sejumlah kekecewaannya kepada pelaksana tugas. Saya dinilai tidak sopan memasuki wilayahnya tidak ijin atau datang berkonsultasi.

Aneh, dulu ketika saya memasukkan kata kunci “ Supriadi Rustad UHO”, maka mbah Google selalu menunjukkan sejumlah judul berita menyeramkan antara lain “ SR dinilai Tidak Layak menjadi PLT, “Demo di DPRD Sultra, sejumlah Dosen dan Mahasiswa Tolak Pj Rektor”, “ Gubernur Nur Alam Kecewa dengan PLT UHO” dan seterusnya. Namun malam setelah pilrek, judul-judul seperti itu tidak saya temukan lagi. Mungkin saya yang tidak teliti atau barangkali di bulan ramadhan ini para syetan telah diika erat dengan tali mati.

Veni, vidi, vici, saya datang, saya lihat dan saya menang. Tentu bukanlah kemenangan yang jumawa, namun setidaknya saya telah membuktikan sejumlah hal. Pertama, di tengah maraknya berita di media sosial ternyata hanya sedikit yang mengandung kebenaran oleh karena itu kita harus cerdas menyikapi suatu berita. Kedua, kekerasan dan keberingasan selalu bisa dikalahkan dengan kelembutan hati yang bertumpu pada kesabaran prima. Ketiga, sangat keliru menganggap perguruan tinggi swasta mutunya lebih rendah dari pada yang negeri. Rangking Webometrics dan akreditasi sejumlah perguruan tinggi swasta ternyata bisa lebih baik dari hal yang sama pada perguruan tinggi negeri, termasuk UHO.

Supriadi Rustad, Pelaksana Tugas Rektor UHO, Kendari 2016-2017, Wakil Rektor Bidang Akademik Universitas Dian Nuswantoro, Semarang

Share0
Share0
http://supriadirustad.blog.dinus.ac.id/2017/06/17/kemenangan-pilrek-uho-sebuah-mutiara-sulawesi-tenggara/
Share

43 thoughts on “Kemenangan Pilrek UHO: sebuah mutiara Sulawesi Tenggara

  1. Assalamu alaikum Prof. Supriadi. Selama Bapak melaksanakan tugas di UHO belum pernah bertemu. Pernah Bapak menyiapkan waktu bertemu dengan dosen untuk menyampaikan
    semacam pandangan tentang UHO, tetapi saya tidak sempat. Meskipun demikian, pandangan-pandangan saya yang disatukan dengan beberapa pandangan kawan lainnya tentang UHO disampaikan secara tertulis. Perkenalkan saya Laode M Harjoni juga menyelesaikan program doktor Biologi di institusi tempat Bapak menyelesaikan Doktor Fisika. Terima kasih Prof. Supriadi telah mengantarkan terpilihnya Rektor UHO periode 2017 – 2021 dengan suasana aman, damai dan penuh kesejukan. Semoga tatakelola UHO terus diarahkan pada tercapainya sasaran jangka panjang UHO tahun 2045 menduduki ranking 250 dunia (Renstra dan RIP UHO). Sekali lagi saya sebagai dosen Program Studi Agroteknologi Fakultas Pertanian UHO mengucapkan terima kasih banyak. Saya berharap Bapak terus memberikan masukan terkait tatakelola akademik di UHO dan PT di Indonesia.

  2. Terima kasih Prof. Supriadi, telah meletakkan Unhalu ke rel perjalanan yg benar. Jadikan saja sikap tidak bersahabat bagi sebagian kecil warga Unhalu sebagai modal melompat yang lebih jauh bagi reputasi bapak. Bukan Unhalu kalau tidak ada demo dalam 10 tahun terakhir. Bila telah tiba saatnya untuk melepaskan kami berjalan sendiri, jangan ragu2 untuk menunjukkan kami jalannya yang benar jika kami mengarah menjauh dari arah sesungguhnya. Kami perlu belajar serius untuk bisa menjadi seperti Prof. Supriadi. Again, thank you for the best treatments so far, bye then!

  3. Alhamdulillah sukses, ending yang mengharukan! Semoga menjadi yang terbaik untuk UHO!

  4. Alhamdulillah plt.rektor uho saya berterima kasih banyak kepada bapak, karena bapaklah saya dapat penyelesaikan pendidikan studi pascasarjana ilmu perikanan, kami akan selalu merindukanmu pak. Prof. Supriadi.
    Jon Dahlan, S.Pi.,M.Pi (Penyuluh Perikanan Prov. SULTRA)

  5. Kemampuan , Keampuhan dan, Ketangguhan karena gemblengan masa silam selama S3 dengan beliau memang terbukti ya Prof. Rustad… Selamat Prof. atas jerih payahnya…

  6. Luar biasa pak Supriyadi Russtad berkah dibulan Ramadan, semoga Allah mencatat semua kerja keras, usaha dan pengabdian pak Supriadi sebagai amal ibadah dan kita semua selalu dalam bimbinganNya, amin Ya Rabb, johny wahyuadi soedarsono, depok

  7. Tulisan inspiratif. Pelajaran penting bagi akademisi UHO. Terima Kasih Prof. Supriadi Rustadz. In Shaa Allah pengabdian bapak akan menjadi amal kebajikan di akhirat kelak. Aamiin

  8. Segala puji bagi Allah yang Maha Sempurna ketetapannya,tiada cacat dan tiada celah.

    Sesungguhnya Allah jualah yang telah menetapkan siapa, kapan, di mana, bagaimana, dan mengapanya rektor UHO.

    Allah jualah yang memilih orang-orang pilihannya untuk diukirkan namanya dengan tinta emas dalam sejarah perjalanan UHO tercinta.

    Dan salah satu yang paling indah ukirannya dan juga tulisannya adalah anda, Prof Supriadi Rustad.

    Jazaakumullahu khairan. Atas segala ketulusan dan untuk semua kesabaran.

    Allah jualah sebaik-baik pemberi balasan.

    -Ambo Sakka-
    Dosen FKM UHO

  9. Terima kasih Prof. Sebuah prestasi yang luarbiasa. Sudah lama kita kenal, tapi lewat tulisan ini saya lebih mengenal Prof. Supriadi, bukan hanya kesederhanaan dan rendah hati, tapi juga pekerja yang ulet, brilliant dan tidak senang menonjolkan diri. Yang lebih unik Prof. Supriadi memiliki guyon yang tidak hanya picu, tapi jugaengandung makna mendidik, pencerahan, benar dan tegas. Cth. Ketika beliau telah ditugaskan sebagai PLT Rektor UHO, tugas pertama adalah audensi dengan Senat UHO dan sekalaigus menjelaskan apa tugas dan tanggung jawab PLT Rektor. karena tidak lama lagi ada Wisuda dan ada yang meyebarkan issues bahwa PLT Rektor tidak sah untuk wisuda dan berharap wisuda ditunda sehingga nilai rapornya merah. Apa jawabnya terhadap msalah tsb. Beliau menjelaakan bhw PLT Rektor itu adalah wakil Menristekdikti yang sah untuk UHO sehingga dapat menjalankan fungsi dan tugas sebagai rektor pada umumnya kecuali dalam hal kepgawaian dan keuangan. Jadi masalah PLT melaksanakan wisudah itu sah secara yuridis formal karena PTL adalah re-presentasi Menteri RISTEKDIKTI sebagai yang dalam hal ini diwakili oleh PLT rektor. Lanjut beliau yang disampaikan dalam bentuk guyon” siapapun yang ditunjuk Menteri untuk melaknakan wisuda itu sah dan ijizahnya juga sah”. Dan dalam rapat tsb semua anggota senat diam, artinya paham, yang sebelum barharap agar wisuda ditunda. Selama Prof. Supriadi bertugas sebagai PLT telah melaksanakan dua kali wisuda dan tidak satupun wisudawan yang berkeberatan atas ijizahnya. Ada lucu dan sekaligus contoh kesederhaannya. Sejak peratama kali PLT tiba di UHO mobil Dinas DT. 10 diparkir di petaran rektorat dengan harapan PLT Rektor menggunakan fasilitas tersebut yang z dengan sopirnya. Mobil tsb tidak pernah beliau pakai sampai sopirnya bosan parkir di rektorat. Beliau merasa pantas dengan mobil avansa sewaan. Beliau mungkin merasa “enggan” dengan penghormatan, tapi cukup diterima dengan pantas dan layak. Itulah sepintas kenangan saya dengan Prof. Supriadi, walaupun singkat Waktunya di UHO, beliau sdh menanam sesuatu yang berharga bagi UHO ke depan khususnya yang menjabat Rektor, pára WR, Dekan dan Gurubesar. Sebelum lupa, ada janji saya untuk wisata ke dataran tinggi Tana Toraja tidak lain untuk berburu cita-rasa Torja coffee. Kapan saja prof. Semoga niat tsb dapat terlaksana. Sekiranya masih bisa sebelum Prof. Supriadi mengakhiri PLT Rektor. UHO ada acara pengukuhan Gurubesar utk melengkapi tugas PLTnya. Terima kasih atas karya pengabdiannya walaupun belum berakhir. Semoga.

  10. Nice job prof, hoped you are not gonna steess, others are still waiting for your ikhlas dedication to improve our higher learning institution quality by banning or devastating “at all cost principle.”… GBU

  11. Tak ada kata bagus selain kalimat Subhanallah Walhamdulillah Walaillahailallahuallahu akbar.

    Saat pertama sya berjumpa dengan Prof. Dr. H Supriadi Rustad, MSi layaknya rekan lain juga berkesan tegang, tegas dan waspada selalu. Tetapi istilah tak kenal maka tak sayang adalah benar terbukti. Ternyata jauh sekali rasa itu, beliau sangat santun mendengarkan keluh kesah semua orang , santun dan sangat peka terhadap keadaan lingkungan.

    Allah SWT memang memberi cara berbeda beda dalam menilai diawal. Namun akhirnya mereka sadar bahwa beliau adalah Pemimpin yang selalu berbicara dengan data dan khawatir akan fitnah jika tidak ada sumber utama.

    Dari itulah saya juga mengambil pembelajaran aplikasi perilaku hingga saat ini.

    Terimakasih Prof. Telah menjadikan dan memberikan nada sambung pada UHO yang InshaAllah akan menjadi besar. Amiin YRA.

    Salam kagem dan hormat pada Rektor Terpilih dan rekan rekan UHO, Civitas akademika, TNI dan Polri serta masyarakat sulteng yang ramah tamah.

  12. terima kasih pak rektor yang telah memberikan wawasan leih terbuka untuk kami(UHO), semogah kedepan lebih baik dan bermakna dalam pelaksanaan selanjutnya,,,,,,,,, sekali pak terima kasih…….

  13. I enjoyed reading this story, moreover, to be honest I always like SR’ writing about UHO or in general about higher education update in Indonesia.

    Only one way to get through for UHO in the future which I called : “getting better” in all terms. Thank you Prof SR …. Alhamdulillah Allah had placed you for UHO so we can learned things a lot from you. Salaam

  14. Satu dasawarsa yang lalu. Rasanya itu waktu tak lama. Saat pertama kali saya berkenalan dengan bpk Supriadi Rustad (SR). Di sebuah rumah makan di daerah Ungaran, kenalan melalui debat cukup membawa hangat suasana rumah makan. Saat itu saya (dan tim) sedang mengevaluasi konsep BLU yang diajukan oleh UNNES. Setelah itu saya tidak pernah ketemu lagi.
    Sayang, tiga tahun kemudian saya hanya berkesenpatan dua bulan membantu beliau di Direktorat Ketenagaan Ditjen Dikti. Tapi ternyata lantai 14 ke lantai 5 di gedung yang sama tidaklah jauh dan melelahkan. Ketambahan satelit juga semakin mendekatkan saya dengan beliau (SR). Dan…tepatnya Februari 2013 mulailah saya benar-benar membantu beliau hingga tahun 2015.
    Itulah sekelumit waktu tertuang dalam untaian kata yang sebenarnya beribu halaman adanya. Entah di halaman berapa dari ribuan halaman tadi, tercatat tinta emas berbagai program brilian. Sekilas seperti, Program Magister dan Doktor bagi Sarjana Unggulan (PMDSU), Program Maju Bersama Mencerdaskan Indonesia (MBMI) dengan Sarjana Mendidik di Daerah Terdepan, Tetluar dan Tertinggal yang lebih dikenal dengan SM-3T nya. Dan masih banyak lagi. Dari program yang lembut sampai penegakan prinsip pengendalian dan penjaminan mutu pendidikan tinggi. Itulah bpk SR yang saya kenal.
    Oleh karena itu, saya sangat percaya bahwa sang begawan telah membuktikan kekuatan akademik dan sosial kebatinannya. Terbukti lagi dengan mandat PLT nya beliau telah menghantarkan UHO memiliki Rektor dengan penuh kedamaian dan kesejukan.
    Selamat untuk UHO dengan rektor barunya.
    Selamat dan apresiasi saya untuk bpk Supriadi Rustad.

    Salam.

  15. Bismillah , keteguhan hati bpk selama menjabat jadi PLT rektor UHO patut ditiru. Kami mahasiswa mendukung penuh prestasi bpk dalam membimbing UHO ke jalan yang “lurus” trimakasih .
    Mahasiswa UHO

  16. Ass,
    yth prof supriadi,
    selamat prof….tulisannya sangat menggugah. Gaya bahasa yang sangat saya kenal….santun tetapi berisi. Perkenalan pertama saya dg prof SR juga penuh tanda tanya, ada sedikit keraguan mengenai kapabilitas. Tetapi setelah berhubungan beberapa tahun sebagai ketua dan sekretaris Dewas, saya makin menyadari bahwa kompetensi beliau tidak diragukan, tidak mau menerima hasil yang mentah begitu saja, selalu siap berada dimuka untuk bertanggung jawab atas tugasnya.
    Sekali lagi selamat prof SR, semoga Allah selalu membimbing bapak, memberkahi setiap langkah bapak dengan kemudahan, kesehatan, keberkahan dan keluasan rezeki. Amiinnn….wass

  17. Salut pak prof.SR, sharing pengalamannya memberi kesan mendalam bagi saya. Sbg alumni UNHALU (kini UHO), sy sangat merasakan suasana yg Prof.rasakan. Alhamdullilah atas pertlongan ALLAH SWT, prof.bisa melewati itu semua dan memberikan kedamaian bagi masyarakat Sultra yg menggantungkan harapan pd satu2nya universitas negeri di provinsi ini. Meski sy spendpat dgn prof. dikotomi swasta vs negeri tdklah penting.
    Skali lagi selamat Prof. Smoga jerih payah ini mnjd catatan amal ibadah dan memudahkn hisab diakhirat kelak. Aamiin
    Smoga prof.dan keluarga besar sll diberikan kesehatan dan dalam lindungan ALLAH SWT. Aamiin ya robbal ‘alaamiin

  18. Selamat Prof Pri, semoga budaya akademik dan politik yg Bpk bangun di UHO bisa menjadi salah satu model utk PT(N) lain di Indonesia. Salam hormat

  19. Terimakasih Prof atas pengabdian yg sebentar tapi berdampak besar terhadap perbaikan UHO kedepan. Bapak telah meletakkan UHO pada rel yg semestinya. Sebagai dosen di UHO saya mengamati sekelumit kebijakan yg bapak tempuh yg dampaknya tdk hanya pada civitas akademika juga mahasiswa dan masyarakat Sultra umumnya.

  20. Pilrek UHO telah telah terlaksana dengan baik dan demokratis, namun belum juga berakhir dengan adanya issu Plagiarism. Semoga hal ini bisa selesai dengan baik.
    Apalagi PLT. Rektor saat ini adalah org paling anti tentang Plagiat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *