Robohnya Universitas Kami (1): Bila Universitas Jadi Suaka plagiasi ?>

Robohnya Universitas Kami (1): Bila Universitas Jadi Suaka plagiasi

Dunia ini memang sudah terluka dan terbuka. Rekomendasi Tim Evaluasi Kinerja Akademik (EKA) yang secara khusus ditujukan kepada Menteri terkait usulan sanksi kepada pelaku tindak plagiat telah bocor merembes mengalir ke mana-mana terutama grup-grup media sosial komunitas pendidikan tinggi. Saya menyadari kebocoran itu setelah ditunjukkan melalui wa oleh seorang teman (rektor) yang dulu sering sama-sama cari rendeng (batang tubuh dan daun kacang tanah sisa panen sebagai pakan ternak) di kampung. Kami bertemu pada upacara 1 Juni yang lalu di Kemdagri.

Saya baru menyadari juga kebocoran itulah yang kemudian memicu peristiwa sebelumnya dua minggu yang lalu.  Tampaknya pada hari itu pemimpin perguruan tinggi (PT) tersebut mengundang dan mengerahkan  alumni doktor untuk menyikapi rekomendasi SR (mestinya nama saya) kepada Menteri.  Di dalam undangan kepada alumni sang pemimpin menyatakan bahwa SR mengusulkan kepada Menteri agar seluruh ijazah doktor dari PT itu dibatalkan.

Di tengah menjalankan ibadah puasa di bulan Ramadhan ini saya menyatakan bahwa Tim EKA tidak merekomendasikan sebagaimana dinyatakan oleh pemimpin PT kepada alumni. Rekomendasi itu terkait dengan kasus tertentu dan tidak berlaku secara umum. Tim EKA berupaya bekerja secara professional dan yang selama ini telah memberikan rekomendasi terukur berdasarkan data dan peraturan yang berlaku. Karena ditujukan kepada Menteri, tindak lanjut terhadap rekomendasi itu sepenuhnya menjadi kewenangan beliau, bukan pihak lain.

Konsen Tim EKA bukan pada pelanggaran biasa melainkan pelanggaran berat yang mengarah kepada jual-beli ijazah atau yang mendekati, seperti tindak plagiat akut yang disengaja dan dilakukan berulang-ulang. Indikasi kuat tindak plagiat akut di PT tersebut telah saya sampaikan pada tulisan sebelumnya. Rekomendasi atas  tindak plagiat tersebut memiliki rujukan yang sangat jelas.

Penanganan tindak plagiat diatur di dalam Permendiknas No 17 Tahun 2010 Tentang Pencegahan dan Penanggulangan Plagiat di Perguruan Tinggi. Ketika dulu bertugas sebagai Direktur Diktendik, saya telah menggunakan peraturan ini untuk menyelesaikan sejumlah kasus. Pasal 12 ayat (1) huruf g menyatakan bahwa sanksi bagi mahasiswa yang terbukti melakukan plagiat  adalah pembatalan ijazah apabila mahasiswa telah lulus dari suatu program. Saya telah menelusuri sejumlah rujukan dan tidak mendapati ada sanksi lain untuk alumni selain sanksi tersebut di atas.

Tata cara penjatuhan sanksi juga telah diatur dengan baik. Sesuai dengan pasal 12 ayat (5), dalam hal pemimpin PT tidak menjatuhkan sanksi, Menteri dapat menjatuhkan sanksi kepada plagiator dan kepada pemimpin PT yang tidak menjatuhkan sanksi kepada plagiator. Selanjutnya ayat (6) menyatakan bahwa sanksi kepada pemimpin PT berupa: a) teguran, b) peringatan tertulis, dan c) pernyataan pemerintah bahwa yang bersangkutan tidak berwenang melakukan tindakan hukum dalam bidang akademik.

Sebelum saya memaparkan tentang bukti tindak plagiat, terlebih dulu dipertajam tentang definisi plagiat. Pasal 1 Permendiknas No 17 Tahun 2010 menyatakan bahwa plagiat adalah perbuatan secara sengaja atau tidak sengaja dalam memperoleh atau mencoba memperoleh kredit atau nilai untuk suatu karya ilmiah, dengan mengutip sebagian atau seluruh karya dan/atau karya ilmiah pihak lain yang diakui sebagai karya ilmiahnya, tanpa menyatakan sumber secara tepat dan memadai. Ada tiga hal penting dari plagiat yaitu aspek sengaja atau tidak sengaja melakukan, mengutip sebagaian atau seluruhnya, dan tanpa menyebutkan sumber.  Dalam pengertian ini, mengutip satu paragraf tanpa menyebutkan sumber dapat dikatagorikan sebagai tindak plagiat.

Sebagai pembanding, berikut ini saya kutip referensi dari tataran praktik. Sebuah lembar pernyataan yang ditandatangani oleh mahasiswa di dalam disertasinya berbunyi “ Apabila di kemudian hari ditemukan seluruh atau sebagian Disertasi ini bukan hasil karya saya sendiri atau adanya plagiat dalam bagian-bagian tertentu, saya bersedia menerima sanksi pencabutan gelar akademikyang saya sandang dan sanksi-sanksi lainnya sesuai dengan peraturan perundangan yang berlaku”. Artinya, sanksi pencabutan gelar akibat tindak plagiat sudah memiliki landasan etika dan hukum yang mapan, yang ketika dilaksanakan secara konsisten tidak akan menimbulkan masalah.

Persoalan utama tindak plagiat adalah membuktikan bahwa tindakan tersebut benar terjadi. Sangat aneh rasanya ketika pemimpin PT bersikeras menyangkal tindak plagiat yang terjadi di institusinya sementara bukti-buktinya sudah demikian telanjang. Alih-alih melaksanakan tugasnya sebagai pemimpin pelopor pembangunan budaya akdemik, sang pemimpin justru sangat aktif menggalang kekuatan untuk menyangkal dan menegasikan kebijakan dan keputusan kementerian.

Jika di sutau negara norma dan etika akademik sudah mampu dikalahkan oleh kekuatan masa, politik dan militer, maka robohlah bangunan universitas di negeri itu. Pada tulisan ini dan sejumlah tulisan berikutnya, saya akan memaparkan bukti-bukti terjadinya tindak plagiat  untuk menggugurkan kewajiban karena telah terlanjur dan terpaksa mengetahui tindakan tersebut dan merasa wajib menyampaikannya kepada publik sebagai bentuk pertanggungjawaban kerja Tim Eka yang dibiayai oleh uang rakyat. Itulah sebabnya judul tulisan ini disertai angka (1) yang menunjukkan bahwa ini bukan satu-satunya tulisan dengan judul di atas.

Indikasi Awal

Dugaan awal terjadinya tindak plagiat dari sejumlah peserta doktor didasarkan kepada analisis meta data file disertasi yang menunjukan sejumlah disertasi diproduksi dari satu komputer dengan akun user yang sama. Sejumlah dokumen soft copy disertasi diperoleh secara resmi dari kiriman Direktur PPs terkait melalui email yang hingga kini tersimpan dan tercatat dengan baik. Berdasaran meta data tersebut diketahui pula bahwa file disertasi di “create” pertama kali sekitar 40 hari sebelum yang bersangkutan dinyatakan lulus. Saya berpendapat tidak perlu menjelaskan fakta ini karena saya yakin pembaca sudah dapat memahaminya dengan logika sederhana.

Indikasi tindak plagiat akut tertangkap ketika substansi yang dijiplak itu nilainya jauh lebih rendah dari substansi sebuah disertasi. Paragraf-paragraf itu diambil dari karya skripsi mahasiswa S1 dan tugas akhir mahasiswa D3, bahkan tidak sedikit paragraf yang merupakan comotan dari majalah dan media cetak lainnya serta media sosial termasuk tulisan di blog. Hipotesis saya, sejumlah disertasi itu dibuat oleh seorang staf (bawahan) yang tidak mungkin mampu berfikir setingkat disertasi, namun karena itu suatu tugas maka dikerjakannya dengan cara comot sana comot sini.

Hebatnya, cara penyusunan disertasi semacam ini  mampu menembus tembok pembimbing dan filter penjaminan mutu PT. Dulu, konon bangsa Cina membangun tembok untuk mencegah agar musuh tidak bisa memasuki negara mereka, namun di kemudian hari disadari ada  cara mudah menembus tembok, yaitu dengan cara “bersilaturahim” dengan para penjaga tembok. Saya menduga antara peserta doktor dan para pembimbing dan pemilik otoritas lainnya memiliki “hubungan silaturahim yang sangat harmonis”.

Kejanggalan demi kejanggalan yang saya dan tim temui meneguhkan dugaan bahwa sesungguhnya tidak ada proses pembimbingan. Sebagai contoh sederhana adalah penulisan kutipan dan daftar pustaka tidak lazim. Di tubuh disertasi, setiap kutipan selalu ditandai dengan angka numerik (1 dan seterusnya) yang dimaksudkan untuk menyatakan bahwa kutipan tersebut berasal dari pustaka dengan nomer urut sesuai angka numerik yang menyertainya. Namun di bagian Daftar Pustaka, rujukan-rujukan disusun secara alpabetik, tidak menggunakan nomer urut.

Tidak hanya nihilnya proses pembimbingan, tampaknya naskah disertasi itu juga tidak pernah dibaca oleh pembimbingnya dan mungkin juga oleh siapapun, kecuali oleh Tim EKA. Dijumpai sejumlah paragraf dan kalimat yang menjengkelkan sekaligus menggelikan karena berupa kalimat yang tidak selesai, padahal teks dari sumber aslinya berupa kalimat lengkap. Hehehe, wong tinggal copas saja kok yang nggak becus tah lur!. Saya tidak bisa memikirkan lagi  kira-kira apa saja yang tertulis di lembar konsultasi mahasiswa dan dosen pembimbing?.

Contoh Persandingan Karya Ilmiah

Saya mencoba menyandingkan karya ilmiah disertasi a.n XXX dengan karya penulis sebelumnya per bab dan per paragraf. Pada suatu bab, hampir semua paragraf diduga merupakan hasil copas dari karya penulis lain yang kemudian dirakit ulang. Berikut ini analisis persandingan suatu paragraf yang cukup menarik. Pemilihan paragraf ini  bukan berarti paragraf lainnya bebas plagiat, justru lebih susah menemukan paragraf asli karya sang doktor daripada menemukan sumber asli yang dijiplaknya.

  1. Paragraf Disertasi XXX (Agustus 2016)

Program Keluarga Berencana (KB) secara mikro berdampak terhadap kualitas individu dan secara mikro berkaitan dengan tujuan pembangunan pada umumnya. Secara mikro, KB berkaitan dengan kesehatan dan kualitas hidup ibu/perempuan, juga kualitas bayi dan anak. Secara makro, KB dan kesehatan reproduksi berkontribusi baik secara langsung maupun tidak langsung. keterkaitan program KB dalam konteks sumber daya manusia berkaitan dengan daya hidup serta kualitas ibu dan anak. Kualitas ibu diantaranya berkaitan dengan kualitas kehamilan, keselamatan kelahiran, dan kualitas ibu pasca kelahiran yang berdampak terhadap kesehatan jangka panjang dan produktivitas kerja. Sementara itu kualitas anak berkaitan dengan daya hidup serta kualitas Janin, bayi saat dilahirkan, dan kualitas anak“.

 

  1. Paragraf Eusis Sunarti, 7 Maret 2012

(http://euissunarti.staff.ipb.ac.id/keluarga-berencana-kualitas-sdm-ketahanan-keluarga/)

“Program Keluarga Berencana (KB) secara mikro berdampak terhadap kualitas individu dan secara mikro berkaitan dengan tujuan pembangunan pada umumnya. Secara mikro, KB berkaitan dengan kesehatan dan kualitas hidup ibu/perempuan, juga kualitas bayi dan anak.  Secara makro, KB dan kesehatan reproduksi berkontribusi baik secara langsung maupun tidak langsung untuk meraih MDG’s (Singh et al. 2003 dalam UNFPA 2006), yaitu : 1) memberantas kemiskinan dan kelaparan, 2) mewujudkan pendidikan dasar untuk semua, 3) mendorong kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan,  4) mengurangi angka kematian anak, 5) meningkatkan kesehatan ibu, 6) menjamin kelestarian lingkungan hidup, dan 7) pembangunan kemitraan global untuk pembangunan”.

  1. Paragraf 23 November 2015

(http://documentslide.com/documents/mendeskripsikan-program-keluarga-berencana.html)

Program Keluarga Berencana (KB) secara mikro berdampak terhadap kualitas individu dan secara mikro berkaitan dengan tujuan pembangunan pada umumnya. Secara mikro, KB berkaitan dengan kesehatan dan kualitas hidup ibu/ perempuan, juga kualitas bayi dan anak. Secara makro, KB dan kesehatan reproduksi berkontribusi baik secara langsung maupun tidak langsung untuk meraih MDG’s (Singh et al. 2003 dalam UNFPA 2006), yaitu : 1) memberantas kemiskinan dan kelaparan 2) mewujudkan pendidikan dasar untuk semua, 3) mendorong kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan, 4) mengurangi angka kematian anak, 5) meningkatkan kesehatan ibu 6) menjamin kelestarian lingkungan hidup, dan 7) pembangunan kemitraan global untuk pembangunan.  Beberapa penjelasan keterkaitan program KB dalam konteks sumberdaya manusia berkaitan dengan daya hidup serta kualitas ibu dan anak. Kualitas ibu diantaranya berkaitan dengan kualitas kehamilan, keselamatan kelahiran, dan kualitas ibu pasca kelahiran yang berdampak terhadap kesehatan jangka panjang dan produktivitas kerja. Sementara itu kualitas anak berkaitan dengan daya hidup serta kualitas Janin, bayi saat dilahirkan, dan kualitas anak.

Mari kita bandingkan cara ketiga penulis di atas mengutip suatu paragraf. Penulis 2 dan 3 secara tepat mengutip suatu paragraf dan menyebut sumber aslinya (Singh et al. 2003 dalam UNFPA 2006) dengan makna yang utuh dan lengkap sebagai kalimat. Sementara itu kita menyaksikan penulis 1 tidak hanya tidak menyebut sumber aslinya, tetapi ia juga telah melakukan kanibalisasi dengan cara memotong ujung suatu kalimat dan “memperkosanya”, menyambung dengan potongan kalimat berikutnya sehingga membentuk paragraph absurd yang tentu saja sulit dimengerti maknanya. Tampak bahwa paragraf penulis 1 dibuat dengan cara memenggal secara sadis leher paragraf penulis 3.

Proses kanibalisasi ini terjadi hampir di semua paragraf. Karena mungkin dulu prakteknya dilakukan dengan mengandalkan copas sumber terbuka, maka prosesnya menjadi reversibel . Mudah bagi siapapun untuk melacak sumber-sumber yang dijiplaknya. Sebagai tugas pekerjaan rumah (PR), saya persilahkan pembaca untuk berselancar menemukan artikel asli yang dijiplak sehingga menghasilkan paragraf berikut. Jangan khawatir, Pak dhe Google akan membantu pembaca dalam waktu kurang dari 5 menit.

Program Keluarga Berencana (KB) Nasional merupakan rangkaian pembangunan kependudukan dan keluarga kecil yang berkualitas sebagai langkah penting dalam mencapai pembangunan berkelanjutan. Pembangunan ini diarahkan sebagai upaya pengendalian kuantitas    penduduk   melalui    program    keluarga    berencana,    serta peningkatan kualitas penduduk melalui perwujudan keluarga kecil yang berkualitas“.

Rumusan masalah boleh jadi merupakan bagian yang kecil kemungkinannya terjadi plagiat. Berikut ini contoh rumusan masalah tingkat doktor yang dapat membuat pening pembaca. Anak lulusan SMA pun tidak akan menuliskan rumusan masalah seperti berikut ini.

  1. Bagaimana tujuan, dasar hukun dan sasaran program KB Bahteramas di Kota Kendari Provinsi Sulawesi Tenggara ?
  2. Bagaimana struktur organisasi, sumber anggaran, sumber daya manusia, prosedur, strategi, dan sarana prasarana program KB Bahteramas di Kota Kendari Provinsi Sulawesi Tenggara ?

Ringkasnya,  narasi pada Bab Pendahuluan berisi “ocehan ngalor ngidul” yang nggak jelas “alang-ujur”, se “nggak jelas” universitasnya. Untuk menguji daya tahan kepala, saya silahkan pembaca menikmati penggalan paragraf berikut. Saya jamin siapapun akan tersadar dari ngantuk membaca cermat narasi berikut.

“Bila keberhasilan program Keluarga Berencana dapat dipertahankan dan berhasil mencapai Total Fertility Rate (TFR) sekitar 2,36 atau Contranceptive Prevalence Rate (CPR) sebesar 60,1 % dan unmet need sebesar 6,5% sesuai dengan data Kementerian Kesehatan Republik Indonesia Tahun 2013. Struktur usia penduduk Indonesia saat ini sangat menguntungkan untuk pembangunan ekonomi….”

Masihkah pemimpin PT berkeras menyangkal temuan-temuan ini?. Benarkah PT ini sedang menggalang dan mengerahkan kekuatan ekstra kampus untuk membuldoser kementerian beserta Tim Eka?. Akankah PT ini menjelma menjadi universitas suaka para pelaku plagiat?. Saya tidak berharap kepemimpinan Jokowi yang sederhana itu  ditandai oleh robohnya universitas di republik ini. Semoga masih banyak orang waras, Amin. Selamat menunaikan ibadah shaum, mohon maaf lahir batin. Wass.

Catatan

Saat ini Tim EKA sedang menyusun dan merapikan matriks ribuan paragraf sejumlah disertasi yang dibuat dengan cara  kanibal. Jika tulisan ini belum mampu menyadarkan pemimpin PT  untuk melakukan tindak lanjut sesuai ketentuan, mungkin diperlukan data dan bukti yang lebih banyak tayang di muka publik.

 

Supriadi Rustad, Tim Evaluasi Kinerja (EKA) Perguruan Tinggi Kemenristekdikti, Pelaksana Tugas Rektor Universitas Halu Oleo, Kendari

Share0
Share0
http://supriadirustad.blog.dinus.ac.id/2017/06/04/robohnya-universitas-kami-1-bila-universitas-jadi-suaka-plagiasi/
Share

29 thoughts on “Robohnya Universitas Kami (1): Bila Universitas Jadi Suaka plagiasi

  1. Ngerik membaca artikel Prof. Dr H. Supriadi Rustad, MS.i ini dan membuat saya juga harus hati-hati.

    Tapi sebetulnya, benar yang disampaikan Prof. Dr H. Supriadi Rustad, MS.i bahwasanya jika mengutip, wajiblah mencantumkan sumber asal, sangat mudah kok.

    Satu hari saya pernah menulis artikel yang menurut nalar akademik sesuai kajian yang sedang dibuat. Saya belum melihat artikel apapun dalam penulisan, asyik saja menulis menurut logika akademik sebagaimana pemahaman ilmu soial.

    Setelah selesai dan rapihkan menurut bahasa Indonesia yang baik dan benar…. Saya melanjutkan dengan menggunakan alat deteksi plagiarsm dan ternyata ada kalimat yang logikanya sama dengan saya dan telah dipublikasikan…terkejut juga, kok ada yang sama ya….

    Apa yang saya lakukan?

    Akhirnya saya membaca artikel tersebut dan memang adalah dalam baris tersebut (tidak sepenuhnya sama).., satu artikel akhirnya saya baca. Setelah memperhatikan kajian tersebut ada kesamaan penalaran dan kajian, maka secara etik, saya wajib melampirkan pemikiran yang disampaikan peneliti sebelumnya.

    Disanalah saya belajar betapa sulitnya menulis terlebih ilmu sosial dalam Applied Research, menurut saya original tapi setelah diperiksa detail wuuih banyak beberapa kajian dunia terbuka.

    Apapun, Permendikbud tentang anti plagiarsm itu telah melindungi kita agar taat azas.

    Jika ada yang belum paham mungkin belum membaca dengan makna leksikal bahasa Indonesia yang Benar dan Baik.

    Mesin detector plagiarsm memang selayaknya wajib dipunyai oleh seluruh PT di Indonesia yang mewajibkan seluruh masyarakat pendidik (baik dosen/guru & mahasiswa) melakukan deteksi.

    Tujuannya bukan membunuh karya tersebut, sesungguhnya lebih kepada kearifan dan kejujuran dalam akademik, terlebih sebuah karya besar dari hasil akademik.

    Semoga, InshaAllah masyarakat akademik dapat memahami maksud penjelasan.

    Terimakasih Prof. memberikan kami kembali untuk berhati-hati dalam berkarya.

    Hormat dan sungkem Saya

  2. Terima kasih Prof atas info dan penjelasan dalam menghindari plagiasi demi kesempurnaan dalam berkaya sesuai anjuran akademik . ” Kualitas diri anda dinilai dari bagaimana diri anda bukan apa yang anda miliki sebenarnya “. Hormat & sungkem saya

  3. Plagiarisme memang sdh menjadi virus yang membahayakan apalagi dikalangan mhsw baik undergraduate maupun post graduate yg sedang mengerjakan TA, hanya karena terkejar target cepat lulus dam dosen pembimbing yg cuek bisa menimbulkan plagiarism. Sebaiknya mmg harus ada semacam “plagiarism checker” seperti Turnitin atau I-thentification untuk TA yg berbahasa Indonesia , jd spy ada parameter prosentase plagiasi nya. Selama ini hanya yang berbahasa Inggris aja yg di cek plagiasi nya.

    1. Selamat pagi

      Uraian yang analitis dari Pak Supriadi. Terimakasih sudah sering menuliskan pendapat dalam bentuk blog. Dampaknya menurut saya akan lebih besar dibandingkan bila dituangkan dalam bentuk makalah ilmiah.

      Selalu sehat dan sukses Pak.

    2. Maaf Bu Hendrati. Mestinya komentar di atas tidak “nyangkut” ke komentar ibu. Berkaitan dengan komentar ibu, saya ingin berpendapat bahwa untuk deteksi plagiarism dokumen dalam Bhs Indonesia, dapat juga dilakukan dengan Google sebagai salah satu upaya kita selaku pembimbing.

  4. Nakal di ranah akademik memang sebaiknya jangan diberi toleransi. Setelah jd doktor sok hebat, padahal disertasinya berisi kompilasi yg dicopy paste dari karya org lain dgn cara sadis. Virus hrs segera dibersihkan, kalau tdk, institusi akan rusak.

  5. “Di tubuh disertasi, setiap kutipan selalu ditandai dengan angka numerik (1 dan seterusnya) yang dimaksudkan untuk menyatakan bahwa kutipan tersebut berasal dari pustaka dengan nomer urut sesuai angka numerik yang menyertainya. Namun di bagian Daftar Pustaka, rujukan-rujukan disusun secara alpabetik, tidak menggunakan nomer urut”…. kalau ini memang aturan dari gaya selingkun univeristas masing-masing prof, perlu dikoreksi barangkali atau saya salah tangkap …

    1. Lalu numerik itu untuk apa? Semoga pedoman penulisan disertasi nya Prof SR bisa dibuka ke publik melalui media ini. Tetap semangat Tim EKA..

    2. Jika yg dimaksud Prof. SR menunjuk ke PT itu, angka arab (numerik) digunakan utk catatan kaki, sdgkn daftar pustaka disusun menurut urutan abjad. Sy phm krn diminta seseorg utk membc draf naskah disertasinya. Sy betul2 kaget dg topik semacam diangkat dlm riset disertasi. Sy no comment dan menghindar dg alasan tdk pny waktu.
      Salam akademia,
      JP

  6. Memang Ctrl+A berlanjut Ctrl+C hingga Ctrl+V jika tidak tepat gunakan akan membunuh karakter akademik Prof.

    Sejujurnya tulisan adalah Ctrl+D alias Kontrol diri sesuai ketentuan yang berlaku. InshaAllah akan membawa manfaat

  7. Sungguh mengerikan dan menyedihkan. Ibarat tumbu marani tutup. Saling membutuhkan, tidak peduli lagi etika dan norma akademik. Lha kalau yang reguler saja terjadi, apalagi yang non reguler, kelas jauh, kelas Sabtu-Minggu, dan kelas kerjasama yang banyak diikuti oleh para pekerja.
    Mungkinkah ini terjadi karena:
    1. Mudahnya pemberian ijin penyelenggaraan pendidikan magiater/doktor?
    2. Penjaminan mutu yang impoten
    3. Rasio pembimbing-mahasiswa sangat tidak normal/sehat
    4. Sistem jenjang dan karir pegawai. Untuk menduduki eselon IV minimal harus “magister/S2”. Tanpa melihat DUK, masa kerja, konpetensi, dll.
    5. Pendidikan magister/doktor merupakan lahan subur yang menjanjikan.
    6. Ataukah mentalitas akademik yang runtuh karena sesuatu.

    Semoga Tim EKA tetap kuat dan solid. Sehingga rekomendasi ke Kemristekdikti membuahkan hasil baik dengan dilakukannya penataan dan perbaikan pendidikan tinggi Indonesia.

    Salam Indonesia Cerdas Bermartabat.

  8. Plagiator karya orang lain, sesungguhnya mereka tidak layak beraada di PT, termasuk pendukung2nya itu. Kementerian harus tegas sebab dasar utk menindak mereka sangat jelas. Selamatkan moral pendidikan (tinggi), selamatkan Indonesia. Maju terus tim EKA.

    IMR

    1. Kecil besarnya presentasi, tetap juga Plagiat.

      Sebagai Dosen selalu memberi nasehat pada Mahasiswa dalam belajar menulis yg baik dan benar, tentu malu jika yg menasehati yg melanggar

      1. Unhalu-ku Sayang, UHO-ku Malang

        Oleh: Prof. Ir. H. MAHMUD HAMUNDU, M.Sc. (Mantan Rektor Universitas Halu Oleo)

        Mengawali tulisan ini terlebih dahulu menyampaikan bahwa pada masa lalu saya lebih dikenal sebagai akademisi sekaligus politikus, namun saat ini sejalan dengan bertambahnya usia maka dalam hidup saya telah menggaris merah urusan politik, tinggal semangat akademik yang terpatri dalam jiwa saya. Jiwa dan semangat akademik inilah yang membuat hidup ini lebih bermakna.

        Sejalan dengan hal tersebut saya sangat terkesan dengan postingan Plt. Rektor Universitas Halu Oleo (Prof. Dr. Supriadi Rustad) pada tanggal 23 Juni 2017 dan tanggal 9 Juli 2017 melalui akun beliau.

        Postingan 23 juni 2017 dengan judul “Sepotong Kue Lebaran dari BAN-PT” khususnya paragraf 8 dan 9 yang berbunyi sebagai berikut : “Jika di suatu Perguruan Tinggi kejujuran bisa ditemukan secara murah dan cepat maka Perguruan Tinggi itu, tidak perduli negeri atau swasta, pasti akan segera bersinar di masa depan.

        Tugas utama Perguruan Tinggi yang tidak dimiliki oleh institusi lain mana pun adalah membangun budaya akademik. Sebaliknya, jika suatu Perguruan Tinggi sudah tidak bisa berbicara benar tentang kejujuran, misalnya suka berbelit dan bertele-tele mengurus tindak curang dan plagiat maka tak lama lagi kita akan segera melihat tinggalan tulang dan kerangkanya.

        Pohon kering kerontang pendidikan tinggi telah ditinggalkan akar, daun dan bunganya. Hujan seribu hari tidak akan membuat ranting bersemi, tetapi mempercepat pembusukan sebelumnya akhirnya mati”

        Postingan Plt. Rektor UHO tanggal 9 Juli 2017 yang berjudul: “Robohnya Universitas Kami: Melindungi Plagiator yang Tersangka Korupsi” mengungkapkan bahwa “Presiden Hongaria Pal Schmitt yang mengundurkan diri dari jabatan sebagai presiden Hongaria setelah ijazahnya dibatalkan oleh karena disertasinya terbukti jiplakan (plagiat) Demikian pula Menteri Pendidkan Nasional Jerman Annette Schavan juga mengundurkan diri karena mengutip karya orang lain tanpa mencantumkan sumbernya”.

        Dari kedua postingan Plt. Rektor Universitas Halu Oleo pada awalnya saya melihat judul tentang Robohnya Universitas Kami, jujur saya kaget apa yang terjadi di Universitas Halu Oleo karena asumsi saya bahwa Universitas Halu Oleo yang disorot beliau karena sebagai Plt. Rektor UHO.

        Ternyata setelah saya membaca tuntas tidak menyinggung Universitas Halu Oleo. Namun jujur saya melihat bahwa apa yang menjadi masalah di Universitas Halu Oleo yang dulu disebut dengan akronim “Unhalu” sekarang dirobah menjadi “UHO” memiliki relevansi kuat dengan yang diposting oleh Plt. Rektor UHO.

        Oleh karena itu, jiwa akademik saya terpanggil untuk menulis pada kesempatan ini untuk menyampaikan dukungan dan dorongan kepada semua pihak yang berkompeten terutama Plt. Rektor UHO agar menyelesaikan persoalan akademik yang melilit “Unhalu-ku Sayang” bisa terselesaikan sehingga tidak menjadi “UHO-ku malang.”

        Perlu saya mengingatkan bahwa Universitas Halu Oleo dirintis dan didirikan oleh putra-putra terbaik Sulawesi Tenggara dengan rektor pertama Drs. H. La Ode Mualim, dilanjutkan secara berturut Prof. Edy Makodompit, Prof. Soleh Solahuddin, Prof. Abdurrauf Tarimana kemudian saya sendiri (Prof. Mahmud Hamundu) dan setelah itu Prof. Usman Rianse. Kecuali dua nama terakhir, mereka itu telah berpulang ke Rahmatullah dan menitipkan “Unhalu-ku Sayang” kepada generasi pelanjut dengan tujuan utama untuk mencerdaskan anak bangsa, menjadikan manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa disertai dengan akhlak yang mulia.

        Cita-cita leluhur mendirikan Universitas Halu Oleo sangat mulia dan sangat sejalan dengan tujuan pendidikan nasional. Oleh karena itu saya sebagai mantan Dekan Fakultas Pertanian dua periode dan mantan Rektor Universitas Halu Oleo dua periode sangat terpanggil untuk memberikan sumbang pemikiran dan rasa keprihatinan terkait dengan hiruk–pikuk belakangan ini menerpa Universitas Halu Oleo.

        Saat ini berbagai media massa (cetak, elektronik dan utamanya media online) serta media sosial hangat dengan pemberitaan tentang beberapa guru besar Universitas Halu Oleo yang menggelar mimbar bebas menyuarakan keprihatinan mereka terhadap adanya indikasi plagiat yang dilakukan oleh oknum-oknum dosen “UHO”.

        Seingat saya, untuk pertama kalinya dalam sejarah perjalanan “UHO” para guru besar turun menggelar mimbar bebas.

        Fakta ini menyiratkan makna bahwa ada sesuatu yang terjadi secara serius di universitas yang kita cintai dan kita bangun bahu membahu dari waktu ke waktu sampai besar seperti saat ini.

        Saya memiliki suatu prinsip bahwa guru besar adalah benteng pertahanan terkahir untuk mempertahankan kejujuran dan keberanan sebagai fondasi sekaligus tiang utama untuk berdiri kokohnya suatu universitas.

        Jika guru besar dan dosen pada umumnya telah melakukan kebohongan, kecurangan dan plagiat maka runtuhlah sistem pendidikan Indonesia. Oleh karena itu sangat beralasan Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas) yang saat ini menjadi Kemenristekdikti membuat peraturan yang tertuang dalam Permendiknas nomor 17 tahun 2010 tentang pencegahan dan penanggulangan plagiarisme.

        Saya mencoba memahami Permendiknas nomor 17 tahun 2010 tentang apa itu sesungguhnya plagiat. Ternyata sangat sederhana untuk difahami karena ada 3 faktor utama yang harus terpenuhi baru dapat dikategorikan tulisan/karya tulis ilmiah seseorang menjadi plagiat. Ketiga faktor tersebut adalah :

        1. Suatu perbuatan sengaja atau tidak sengaja;

        2. Mengututip sebagian atau seluruh karya ilmiah pihak lain

        3. Tanpa menyatakan sumber secara tepat dan memadai

        Menurut hemat saya pembuktian suatu karya tulis ilmiah tergolong plagiat atau bukan, tidak membutuhkan pemikiran yang susah, apalagi pada saat ini telah banyak alat bantu (software) untuk membantu percepatan mengetahui kesamaan dan jurnal mana yang terdeteksi yang memiliki kesamaan.

        Kemajuan teknologi dalam bentuk sofware anti plagiarisme sangat membantu akademisi untuk melacak suatu karya ilmiah tergolong plagiat atau bukan.

        Mengakhiri tulisan ini, saya sangat berharap agar pemeriksaan dugaan plagiat yang terindikasi dilakukan oleh oknum-oknum dosen UHO yang merebak saat ini benar-benar disandingkan dan dianalisis secara akurat, akuntanbel, transparan dan terbuka, jangan ada yang disembunyikan karena ini menyangkut nilai-nilai kejujuran akademik.

        Pada akhirnya sebagai akademisi harus mampu mengatakan yang benar itu adalah benar dan yang salah itu adalah salah meskipun berdampak pahit, agar “Unhalu-ku Sayang” tidak tergelincir menjadi “UHO-ku Malang”. Semoga, Wassalam.

  9. Pendidikan Tinggi merupakan institusi pengahasil SDM. Kalau PT sudah tidak memperhatikan etika akademik, sesungguhnya PT tersebut sudah mendidik dan menghasilkan SDM yang cacat moral, dan ini merupakan awal menghasilkan koruptor. Apakah ada korelasi langsung pendidikan seperti itu dengan maraknya korupsi di negeri ini? Suatu yang mengkhawatirkan. Yang berwenang harus mengambil tindakan sesuai dengan peraturan yang ada. Apa perlu Pak Presiden turun tangan membenahi pendidikan di Indonesia. Nampaknya sangat diperlukan. Karena pendidikan menhasilkan SDM, pendidikan tidak benar, maka SDM yang dihasilkan tidak benar. Kita dukung Tim EKA, selamat bekerja, benahi pendidikan kita.

  10. Apakah permendiknas-no-17-tahun-2010-tentang-pencegahan-dan-penanggulangan-plagiat masih berlaku? Perlawanan thdp praktek plagiarisme harus mulai dari implementasi peraturan itu di dalam kehidupan akademik. Setiap PT mesti bisa diberi indeks plagiarisme yg wajib mereka turunkan terus menerus.

  11. Seorang temen bercerita bahwa ia dan teman-temanya sedang menempuh S2 di PTS baru dibuka program studi. Alasan sederhana kenapa ia dan teman-temanya tertarik mengikuti program S2 di PTS tersebut dibandingkan di PTN sudah terakreditas yaitu pertama, PTS menjanjikan masa studinya dijamin 2 tahun selesai kedua banyaknya potongan biaya jika mampu membawa orang untuk mengikuti S2 di PT tersebut. Alasan pertama sangat menggelihkan bagaimana mungkin seseorang yang melakukan studi sudah pasti kelar 2 tahun, padahal setiap orang berbeda dari segi kemampuan, lantas bagaimana studinya ?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *