Pendidikan Doktor “Basa-basi” ?>

Pendidikan Doktor “Basa-basi”

Mulai dari tulisan ini saya memutuskan untuk menggunakan istilah “basa-basi” guna memperhalus ungkapan yang sebelumnya saya gunakan untuk menyebut mutu rendah. Saya belajar, dan akhirnya menyadari bahwa masyarakat Indonesia ternyata lebih menyukai penghalusan bahasa yang tetap memuat selera humor (joke) daripada yang lugas meski maknanya sama. Melalui tulisan ini pula saya meralat ungkapan abal-abal yang sebelumnya sempat saya gunakan dan menggantinya dengan “basa-basi”.

Mencermati rangking Webometrics perguruan tinggi di Indonesia edisi Januari 2017 dan sebelumnya, ada data menarik. Secara umum rangking dunia perguruan tinggi di Indonesia mengalami penurunan signifikan, meski rangking nasional naik. Sebagai contoh Universitas Dian Nuswantoro Semarang yang hingga saat ini belum menyelenggarakan pendidikan doktor. Rangking nasional universitas di tengah kota Semarang ini menyodok ke peringkat ke-24 dari semester sebelumnya pada peringkat ke-31. Namun ternyata rangking dunianya turun, dari peringkat ke-3356 ke peringkat ke-3468. Hal demikian ini secara umum terjadi pada perguruan tinggi lainnya, dan ini menunjukkan bahwa di kancah global, daya saing perguruan tinggi Indonesia melemah. Ya, kita sepertinya lebih sibuk “bertarung” di dalam negeri.

Selain daya saing yang melemah, terdapat satu data yang menggelitik pikiran. Data tersebut ada di kolom keempat indikator perangkingan, yang diberi judul Excelence. Tak habis pikir, kenapa pada aspek ini sebagian besar perguruan tinggi di Indonesia memiliki peringkat yang sama, yaitu ke-5778. Apakah Webometrics tumpul dan tidak memiliki determinasi ketika berhadapan dengan indikator ini? Ya, lembaga perangkingan ini tampak tidak memiliki resolusi lagi untuk aspek ini.

Saya coba tengok tiga kolom lainnya. Ternyata normal dan konsisten. Baik indikator Presence, Visibility, maupun Openess, ketiganya konsisten menunjukkan rangking bahkan hingga peringkat puluhan ribu. Ya, ketidaknormalan hanya terjadi di indikator keempat, Excelence. Apa sesungguhnya yang terjadi?

Saya akhirnya memahami bahwa Webometrics ternyata bukan hanya melakukan perangkingan terhadap web atau laman, tetapi juga kinerja akademik perguruan tinggi yang sangat mendasar. Sistem perangkingan ini mengompilasi data karya ilmiah insan perguruan tinggi yang reliabel dan sahih dari berbagai sumber data terbuka (open data sources). Sebenarnya tentang hal ini telah dijelaskan dengan baik oleh lembaga perangkingan yang dikelola oleh Badan Penelitian Nasional Spanyol itu melalui laman resmi pada menu FAQs.

Indikator Excelence merujuk kepada jumlah artikel karya sivitas akademika perguruan tinggi yang dipublikasikan. Tidak tanggung-tanggung, Webometrics mengambil data ini dari artikel yang terindeks di Scimago Institutions Rangking (SIR) pada kurun 2010-2014. Pada perhitungan rangking edisi Januari 2017, indikator ini memiliki bobot yang lumayan besar, yaitu 30 %.

Pada indikator ini, angka 5778 merupakan angka keramat, karena peringkat ini diduduki oleh hampir sebagian besar perguruan tinggi di Indonesia. Tercatat hanya 29 perguruan tinggi di Indonesia yang memiliki peringkat selain itu. Hingga saat ini saya belum bisa menemukan peringkat di bawahnya, misalnya peringkat ke-5779, ke-5790, dan seterusnya. Dalam konteks ini, peringkat ke-5778 merupakan peringkat terminal, tidak ada lanjutannya.

Untuk semesta himpunan bilangan positif, angka 0 (nol) lebih cocok menjelaskan fenomena peringkat ke-5778 ini. Dari 4.500-an perguruan tinggi di Indonesia, hanya 29 perguruan tinggi yang memiliki nilai selain nol, sedangkan perguruan tinggi lainnya memiliki nilai nol. Sungguh sangat mengherankan, karena sejumlah perguruan tinggi yang memiliki peringkat Excelence 5778 (nilai nol) itu adalah mereka yang mendapatkan peringkat akreditasi institusi A. Lebih dari separuh perguruan tinggi terakreditasi institusi A dinilai lemah daya saingnya oleh Webometrics!

Instrumen akreditasi disusun mengacu pada Standar Nasional Pendidikan Tinggi (SN Dikti). Mengingat standar nasional merupakan standar minimal, maka instrumen akreditasi semestinya tidak hanya mengukur standar, tetapi juga bisa mengukur dampak dari keberadaan standar itu sebagai perwujudan dari daya saing perguruan tinggi. Untuk peringkat akreditasi baik (C) atau sangat baik (B), intrumen yang sekarang ada nampaknya sudah mencukupi. Namun untuk meraih peringkat akreditasi unggul (A), tampaknya harus dibuat parameter distinctive yang bisa mencerminkan sisi keunggulan (daya saing) perguruan tinggi yang bersangkutan. Dengan keterbukaan BAN PT, saya optimistis instrumen akreditasi dapat disempurnakan supaya akreditasi lebih objektif menjawab pertayaan “apa” kontribusi perguruan tinggi daripada menjawab pertanyaan “siapa”.

Publikasi Doktor, ke Mana?

Yang sangat mengganggu pikiran adalah bahwa sejumlah perguruan tinggi yang daya saingnya lemah, termasuk mereka yang menyelenggarakan pendidikan doktor  yang sudah dikenal cukup lama. Ke manakah publikasi karya ilmiah para doktor itu sehingga tidak terindeks di SIR? Ah… jangankan di SIR atau Google Scholar, di repositori perguruan tinggi saja karya ilmiah tersebut belum tentu bisa ditemukan.

 

Dosen dengan jabatan guru besar dan lektor kepala dituntut menghasilkan karya ilmiah yang dipublikasikan baik nasional maupun internasional. Permenristekdikti Nomor 20 Tahun 2017 memuat hal-hal yang mengatur pemberian tunjangan profesi dan tunjangan kehormatan profesor dikaitkan dengan  kewajiban publikasi karya ilmiah dosen. Baru-baru ini Menristekdikti menyatakan setidaknya 1200 guru besar tidak melakukan publikasi. Menarik untuk diteliti hubungan antara profesor yang tidak melakukan publikasi dengan latar belakang pendidikan doktornya. Adakah kesimpulan yang mengarah kepada akar persoalan pendidikan doktor basa-basi?.

 

Sesuai dengan Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia (KKNI), doktor memiliki derajat kualifikasi 9 dengan 3 (tiga) deskripsi sebagai berikut. Pertama, doktor mampu mengembangkan pengetahuan, teknologi, dan/atau seni baru di dalam bidang keilmuannya atau praktik profesionalnya melalui riset, hingga menghasilkan karya kreatif, original, dan teruji. Jelas bahwa kompetensi doktor itu kompetensi riset untuk mengembangkan ilmu pengetahuan, bukan mengembangkan proyek atau program.

Kedua, doktor mampu memecahkan permasalahan ilmu pengetahuan, teknologi, dan atau seni di dalam bidang keilmuannya melalui pendekatan inter, multi, dan transdisipliner. Pergulatan seorang doktor adalah menemukan solusi keilmuwan atas peroalan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni.

Ketiga, doktor mampu mengelola, memimpin, dan mengembangkan riset dan pengembangan yang bermafaat bagi ilmu pengetahuan dan kemaslahatan umat manusia, serta mampu mendapat pengakuan nasional dan internasional.  Pengakuan terhadap seorang doktor sebagai academic leader antara lain dapat melalui karya ilmiah yang dihasilkan. Kiranya tak berlebihan sebutan doktor basa-basi untuk mereka  yang takut karya ilmiahnya dibaca orang lain.

Pendidikan doktor merupakan jenjang pendidikan yang menjadi tumpuan untuk pengembangan ilmu pengetahuan. Melalui suatu kelompok penelitian (research group) yang dipimpin seorang profesor,  jenjang ini mestinya menjadi pelopor pembangunan suasana penelitian di kampus, karena memiliki tugas untuk mengembangkan ilmu bersama adik-adiknya mahasiswa S2 dan S1. Kelompok penelitian demikian ini diharapkan menjadi “mesin” publikasi artikel hasil penelitian sehingga bisa terdaftar di lembaga perangkingan baik nasional maupun internasional.  Jika suatu pendidikan doktor tidak mampu berkontribusi pada jumlah artikel yang berkualitas, maka “mesin” publikasi perguruan tinggi yang bersangkutan dapat dikatakan telah berada pada “sakaratul maut”.

Pendidikan doktor basa-basi merujuk kepada pendidikan doktor yang tidak mampu menghasilkan artikel hasil penelitian yang berkualitas atau produk lain yang setara. Ciri-ciri pendidikan doktor jenis ini antara lain ia tidak memiliki interaksi keilmuwan dengan jenjang pendidikan sarjana dan magister, bahkan di antara mahasiswa dari jenjang S1, S2, dan S3 pada prodi/bidang yang sama tidak saling mengenal. Pembelajaran dilakukan secara klasikal dan terpisah dari kegiatan akademik lainnya dengan label kelas tertentu.

Ciri berikutnya adalah  tidak memiliki kelompok dan juga proyek  penelitian sebagai isu bersama yang hendak dicarikan solusinya. Tema disertasi tidak saling berhubungan satu sama lain, termasuk juga tidak ada kaitannya dengan skripsi dan tesis pada jenjang sebelumnya.  Perdebatan dan wacana yang berkembang di seputar tema disertasi, baik oleh promotor, promovendus, maupun khalayak di komunitas ini dapat dikatagorikan sebagai isu basi dari  sebuah basa-basi yang sejatinya tidak perlu ada. Nyaris tidak dijumpai “saling kutip” pada karya lulusannya.

Mutu pendidikan doktor antara lain dapat dinilai melalui disertasi yang dihasilkan. Pada pendidikan doktor basa-basi, tema disertasi umumnya jauh dari substansi yang terkait dengan evaluasi (review) terhadap suatu ilmu pengetahuan, tetapi didominasi oleh tema yang terkait dengan evaluasi program dan evaluasi proyek. Mencermati sejumlah disertasi di sejumlah program pascasarjana, saya mengamati telaah dan analisis sejumlah disertasi lebih rendah dari hal yang sama pada skripsi sarjana atau bahkan D3.

Ciri paling aneh dari pendidikan doktor basa-basi adalah lulusnya lebih cepat dari pendidikan doktor “beneran”.  Umumnya para doktor ini lulus dalam waktu sekira 2 tahun, suatu selang waktu yang di perguruan tinggi di Amerika hanya khusus untuk menempuh mata kuliah inti sebelum kandidasi. Saya sendiri menghabiskan waktu 7 tahun di ITB sebelum dinyatakan lulus doktor Fisika Institut Teknologi Bandung (ITB) pada tahun 2003. Ah, jadi ingat hampir tiap malam tidur di laboratorium elektomagnetik Fisika Bumi  beralaskan seadanya.

Perangkingan webometrics dapat dimanfaatkan oleh Kemenristekdikti untuk memperbaiki pola manajemen perguruan tinggi di Indonesia. Berdasarkan perangkingan tersebut, hanya ada 29 perguruan tinggi yang memiliki tanda-tanda bisa tumbuh menjadi universitas riset (research university), sementara perguruan tinggi lainnya lebih cocok diarahkan menjadi universitas pengajaran  (teaching university). Jika kita memiliki kebijakan yang jelas tentang pengembagan perguruan tinggi ke depan, maka berbagai macam kebijakan turunannya dapat diarahkan lebih efektif dan efisien, termasuk kebijakan penelitian dan kebijakan pascasarjana.

Bisa jadi pemilahan universitas riset dan universitas pengajaran kurang sejalan dengan konsep tridharma perguruan tinggi. Konsep ini menegaskan bahwa perguruan tinggi memiliki tugas di bidang pengajaran, penelitian, dan pengabdian pada masyarakat secara komprehensif. Jika kita memiliki universitas pengajaran, maka guru besarnya adalah guru besar pengajaran, dan doktornya juga doktor pengajaran. Aneh rasanya. karena spesifikasi utama doktor itu adalah kompetensinya di bidang riset sesuai dengan KKNI.

Dibandingkan dengan jenjang S1 dan S2, jenjang pendidikan doktor di Indonesia merupakan program yang paling tidak terkendali mutunya. Sejumlah perguruan tinggi telah mengumumkan kriteria kelulusan, namun banyak juga yang tidak memiliki kriteria kelulusan yang berkaitan dengan kualitas. Semestinya Kemenristekdikti segera melakukan penertiban kepada program pascasarjana yang hingga saat ini tidak mencantumkan kriteria kelulusan sesuai Permenristekdikti No. 44 tentang  SN Dikti.

 

Supriadi Rustad, Tim Evaluasi Kinerja Akademik  Perguruan Tinggi.

Share0
Share0
http://supriadirustad.blog.dinus.ac.id/2017/02/28/pendidikan-doktor-basa-basi/
Share

20 thoughts on “Pendidikan Doktor “Basa-basi”

  1. Sangat bermanfaat tulisan Bapak, menjadi inspirasi bagi yang ingin melanjutkan pendidikan S3 (program doktor) nantinya, akan menjadi seperti apa dan bagaimana nantinya kita kita jika sudah memiliki gelar doktor….semangat..demi Indonesia lebih baik..maturnuwun uri _ uri nya

  2. Artikel tersebut hanya memperlemah situasi pendidikan tinggi kita. Lembaga perangkingan dijadikan tolok ukur. Padahal lembaga perangkingan menuntut keterbukaan yang bersifat eksploitatif. Dengan mengedepankan HKI jelas menggiring pada pengambilan kekayaan intelektual itu sendiri sebab lembaga itu tidak melindungi kekayaan itu sendiri karena kalau ada sengketa diserahkan pada pengadilan sementara pengadilan rentan akan suap. Seorang profesor di UGM yg karyanya dibajak terpaksa berhenti memperkarakannya karena disuruh pilih jalan toll atau jalan berliku. Belum lagi kalau kalau pembajaknya tidak diketahui oleh pemegang HKI. Seharusnya Permendikti tidak mengancam para profesor melainkan mendorong mereka lebih produktif dengan menjanjikan insentif yg setara dengan luar negeri. Rasanya tidak adil membandingkan kinerja profesor kita dengan luar negeri tanpa menyamakan fasilitasnya. Permendikti ini tidak produktif sebagai gambaran profesor di Malaysia gajinya sekitar lima puluh juta apakah kita tidak membandingkan itu? Masih banyak carut Marut pendidikan kita yg perlu dibenahi tidak dihancurkan seperti itu.

    1. ada benarnya lae, suruh bikin jurnal internasional pakai biaya gaji sebulan, terus makan opo kita nasi campur garam … haha

  3. Mohon dipublikasikan 29 PT yang layak menjadi rujukan dalam pemilihan program doktor yang berkualitas tersebut

  4. Artikel Bapak memberikan inspirasi dan dapat menumbuhkan semangat untuk berbenah diri. Implementasinya perlu diwujudkan dalam program yang aplikatif. Wawasan keilmuan doktor seyongyanya luas (interdisiplin) dan dalam (spesialisasi). Kajian dan pengembangan keilmuan sering dikategorikan ilmu murni dan ilmu terapan. Ini dapat berdampak pada riset pengembangan keilmuan. Di Indonesia juga ada program doktor dan spesialis (ilmu terapan), seperti dalam kedokteran. Siapa pengembang keilmuan doktor, Research University ataukah Research Institute (LIPI, LAPAN, LAN)? Saya pikir universitas masih relevan ber-tri dharma (pengajaran, riset, pengabdian masyarakat). Wallahu’alam.

  5. Sebagai suatu harapan, benar bahwa doktor seharusnya memiliki publikasi bermutu, baik untuk level nasional (dalam negeri) maupun internasional (luar negeri). Jika kenyataannya tidak seperti itu, maka Dikti seharusnya mempertanyakan juga kepada dirinya sendiri,”Mengapa bisa begitu?”Sampai di sini, saya sepakat dengan Japen Sarage di atas bahwa:”Rasanya tidak adil membandingkan kinerja … kita dengan luar negeri tanpa menyamakan fasilitasnya.”
    Yang kita dapatkan malah ‘ancaman’. Saya dosen, masih berpendidikan S2. Pengalaman saya selama ini, bahwa tunjangan fungsional untuk asisten 350 rb, lektor 700 rb, dan lektor kepala 1,5 jt dst… plus sertifikasi senilai 1 kali gaji pokok, cukup menimbulkan ‘keiri-hatian’ beberp dosen. Menulis artikel diperlukan waktu yang cukup dengan dukungan referensi yang mutakhir dan memadai. Dari mana uangnya untuk berlangganan jurnal ilmiah bereputasi nasional/internasonal, terutama untuk universitas yg tidak melanggan jurnal secara institusi? Realistis saja, pada saat bersamaan, dosen juga mesti dituntut menghidupi keluarganya. Bahwa dosen adalah selain profesi, juga pekerjaan dengan kesukarelaan tinggi terhadap tanggungjawab dengan orientasinya pada pengabdian (abdi negara, seperti ungkapan kalsik terhadap guru ‘pahlawan tanpa tanda jasa’?). Hibah penelitian dan pengabdian dikti? itu juga sangat selektif. Dan itu (hibah penelitian dan pengabdian) tidak rutin sifatnya. Maksud saya, itu tidak bisa dikategorikan sebgai sumber penghasilan tetap yang memungkinkan terjaminnya batin seorang dosen untuk bekerja dan berpikir tenang untuk menghasilkan karya andal.

    1. Tidak perlu uang untuk mengakses jurnal internasional bereputasi. Hampir semua bisa diakses dengan mudah melalui sci-hub.cc

  6. “Jika kita memiliki universitas pengajaran, maka guru besarnya adalah guru besar pengajaran, dan doktornya juga doktor pengajaran. Aneh rasanya. karena spesifikasi utama doktor itu adalah kompetensinya di bidang riset sesuai dengan KKNI.”

    Sebetulnya tidak terlalu aneh. Di banyak negara, memang ada pembedaan antara teaching university dan research university. Bahkan di research university, terdapat staff dosen di jalur educator track dan practice track. http://www.nus.edu.sg/careers/acadappt.htm

  7. pak supriyadi terlalu lugu juga kalo sampai menuliskan bahwa beliau membutuhkan waktu 7 tahun utk menyelesaikan doktornya di fisika itb…. lama juga ya.. apakah memang susah dan sulit ya? Just curious saja..

  8. Selamat pagi Pak Supriadi yth

    Salam kenal, saya Erwin, dosen Geologi ITB, masih Lektor sedang menyusun PAK untuk ke LK.
    Saya membaca blog post Bapak, senang rasanya bisa melihat pejabat senior seperti Bapak masih menyempatkan waktu untuk blogging dan menggunakan media blog untuk menyebarluaskan pemikiran, selain tentunya makalah ilmiah.

    Selain semangat optimis yang tersirat dan tersurat dalam blog bapak, perkenankan saya memberikan beberapa  komentar yang mungkin dapat memperkaya artikel bapak.

    Maaf bila masih banyak typo, akan saya perbaiki pelan-pelan.

    Maaf juga masih banyak yang sifatnya dugaan belum teruji, seperti juga beberapa hal yang bapak sampaikan dalam blog.

    Tanggapan saya agak panjang, jadi saya tulis sebagai blog post sendiri di sini: https://goo.gl/kq5PNt.

    Saya sangat membuka diri untuk komunikasi lebih lanjut tentang hal ini.

  9. Terlalu idealis. Percuma disertasi bagus jika masalah LGBT di Indonesia semakin merajalela. Percuma banyak artikel ilmiah terindeks ini itu bila mental intoleransi dan SARA masih tetap mendarah daging. Percuma banyak artikel ilmiah dimuat di jurnal internasional andai fasilitas pendidikan di daerah 3T terabaikan.

  10. Ana sih setuju aja tapi ya jangalah ada sanksi gitu supaya iklim akademis pendidikan di Indonesia lebih nyaman. Parameternya jangan sok LN gitu tapi bagaimana DN lebih kita andalkan untuk dapat mewarnai LN. Ok salam hangat

  11. Artikelnya sangat menginspirasi, benilai dan berkualitaa tinggi. Ini yang saya suka denga pak supriadi

  12. Ngeri juga kalo kita diklaim sbg doktor basa basi gara2 digapai predikat simbolistis itu dgn ala2 balapan sosial. Tak pelak lg, kalo karya ilmiah tak ubahnya pohon pisang yg hanya sekali berbuah.

  13. Pak, apa mungkin ‘jabatan’ yg diemban dosen berpengaruh pada rendahnya publikasi tadi? Yg saya maksud jabatan adalah tugas tambahan, mulai dari yang apresiasinya relatif besar (rektor, dekan, wakil rektor, wakil dekan), relatif kecil (ketua panitia seminar x, seksi konsumsi seminar, seksi transportasi lokakarya y, pendamping kegiatan mahasiswa z dll). Selain tridharma, dosen terlalu banyak diberi tugas tambahan. Atau mungkin dosen sengaja mencari tugas tambahan, tentunya yang apresiasinya besar, apalagi di departemen yg sepi proyek. Dosen yg dapat penelitianpun masih disibukkan dgn mengurus kwitansi, tiket, dan mengutak-utik anggaran dengan trik trik yang diajarkan pendahulunya, hanya supaya dana penelitian keluar. Perlukah jabatan2 tertentu dialihdayakan saja ke EO atau pihak lain supaya dosen bisa konsentrasi ke tridharma saja? Karena banyak dosen2 justru ahli SPJ, ahli kwitansi, ahli anggaran, ahli administrasi, ahli layout, ahli undangan, ahli spanduk, ahli transportasi, ahli surat menyurat, ahli konsumsi, namun publikasi di kepakarannya malah rendah. Karena adakalanya dosen yg fokus ke tridharma dan menolak jabatan2 itu malah dicap negatif.

  14. Kenyataannya memang doktor itu sudah menjadi gelar raden, tumenggung atau KRMH di jaman modern. Banyak pejabat dan orang kaya yg membutuhkan gelar doktor hanya buat gagah gagahan dan bukan didorong oleh keingin tahuan. Desertasi akhirnya cuma sekedar formalitas dan bakalan juga ditolak diterbitkan oleh jurnal2 dalam dan luar negeri. Sayangnya lembaga Universitas yg semestinya menjadi penyaring dan bumper dr orang2 yg ingin gagah gagahan ini malah menjadi promotor perilaku destruktif. Profesor perlu anak didik spy dpt tunjangan. Universitas melihat ini sbg market yg bisa dikapitalisasi.

    Hasilnya adalah kekacauan terstruktur, masif dan sistimatis. Hahaha….

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *